Review Film Saudi: Wadjda

Yay! Saya baru aja nonton film yang saya kira nggak akan pernah bisa saya tonton di Indonesia. Film ini judulnya 'Wadjda', film tentang kehidupan keluarga di Saudi Arabia yang disutradarai oleh orang Saudi sendiri dan diproduksi oleh rumah produksi Jerman. Pertama kali saya tahu film ini setelah membaca berita di situs Al-Arabiya September 2013 lalu, dan sekarang saya mendapat kesempatan untuk menonton filmnya langsung di layar Europe on Screen.

Sebelum dibahas, saya akan kasih tahu sinopsisnya:


  • WADJDA adalah seorang gadis berusia 10 tahun yang tinggal di wilayah pinggiran kota Riyadh, ibukota Arab Saudi. Walaupun ia tinggal di dunia yang konservatif, Wadjda tetap bisa menjadi anak yang pandai melucu, pintar mencari uang, dan berani melakukan hal apapun yang ingin ia lakukan. Setelah bertengkar dengan Abdullah, tetangga sekaligus teman laki-laki yang seharusnya tidak boleh bermain dengannya, Wadjda melihat sebuah sepeda hijau cantik yang dijual di sebuah toko. Wadjda sangat menginginkan sepeda itu agar ia kemudian bisa bertanding sepeda dengan Abdullah, namun ibu Wadjda tidak memperbolehkannya bermain sepeda seperti pikiran masyarakat kebanyakan. Dari sana Wadjda mulai mengumpulkan uang dan berusaha lebih keras dengan usaha membuat gelangnya. Awalnya, ibunda Wadjda terlalu sibuk memikirkan cara untuk membuat suaminya merubah rencananya untuk menikah lagi daripada memerhatikan Wadjda, sampai akhirnya Wadjda ketahuan melakukan beberapa kesalahan di sekolah yang malah menggagalkan rencananya. Ketika Wadjda kehilangan harapan untuk mengumpulkan uang, ia mendapatkan informasi tentang lomba menghapal Al-Quran berhadiah dari sekolahnya. Wadjda pun mulai belajar menghapal beberapa ayat Al-Quran dan berhasil mengambil hati guru-gurunya. Kompetisi tersebut tidaklah mudah bagi Wadjda, tetapi ia tidak pernah menyerah dan tetap berusaha mengejar mimpinya.

(Terjemahan teks dari situs IMDb yang ditulis oleh Razor Film Produktion GmbH)


Para pemain: http://www.sonyclassics.com/wadjda/#/cast_crew

Cerita film ini sebenernya sederhana--sederhana banget! Nggak ada adegan berat seperti kekerasan atau tragedi mengharukan. Tetapi yang membuat film ini kontroversial di negaranya adalah karena sisi yang diceritakan di sini adalah sisi yang biasanya selalu ditutupi dalam kehidupan keseharian masyarakat Saudi. Contohnya seperti suasana di dalam sekolah khusus wanita atau di dalam rumah, di mana perempuan bisa melepas hijab mereka. Kalau film ini ditonton bebas oleh warga Saudi, berarti sama saja mengumbar kebiasaan yang selama ini selalu mereka hormati dan jaga kan?

Bagi kita orang Indonesia, terutama muslim, mungkin ada beberapa nilai atau kebiasaan yang terlihat aneh karena budaya mereka yang tidak lebih bebas daripada kita, namun mungkin masih bisa ditolerir karena kita sama-sama tahu budaya Islam. Tetapi bagi orang barat perasaan 'aneh' itu mungkin bisa jadi beberapa kali lipat! Maka jadilah film ini mendapat tanggapan luar biasa di luar Saudi, ditambah lagi film ini termasuk film langka yang pernah diproduksi di tanah Jazirah tersebut.

Lalu kenapa akhirnya saya begitu tertarik untuk menonton film ini? Selain karena hal yang saya sebutkan di atas, alasan lainnya adalah karena saya (lulusan) mahasiswa Sastra Arab yang haus akan pengetahuan budaya keseharian orang Arab, khususnya di Saudi Arabia. Walaupun saya pernah mendengar beberapa cerita mengenai kehidupan wanita dan hubungan antargender masyarakat Saudi, tetapi entah kenapa saat menonton film ini banyak hal yang membuat saya tercengang.

Langsung saja, cerita ini dibuka dengan suasana kelas dengan anak-anak yang sedang berlatih melantunkan ayat Al-Quran di depan kelas. Wadjda yang berada di barisan belakang tidak serius mengikuti perintah guru dan sesekali mengalihkan perhatian ke teman lainnya yang tidak mengikuti kegiatan tersebut. Hingga akhirnya gurunya mengetahui apa yang dilakukan Wadjda, hingga ia dipanggil ke depan barisan dan disuruh melantunkan beberapa ayat sendiri, walau pada kenyataannya ia belum hapal.

Kemudian scene ketika di rumah, Wadjda yang sedang asyik membuat gelang tangan berbahan anyaman benang yang hendak ia jual sambil mendengarkan lagu rock di radio di kamarnya. Di dapur sang ibu sedang menyiapkan minum sebelum ia berangkat pergi bekerja dengan supir pribadinya yang bernama Iqbal. Setelah ibunya pergi, Wadjda berangkat ke sekolah, di pagi hari. Belum jauh meninggalkan rumah, tiba-tiba ayahnya yang baru pulang setelah lama bekerja mengejutkannya dan memberi wadjda sebuah batu magnetik dari gurun Rub al Khali atau the Empty Quarter. Sejauh ini kita melihat hubungan harmonis di antara orang tua dan anak.

Abdullah, bocah nakal nan lucu
Kemudian saat Wadjda melanjutkan perjalanannya ke sekolah, ia bertemu dengan Abdullah, anak laki-laki yang juga tetangganya, sedang berada di depan iklan kampanye besar bergambar pamannya yang berkumis tebal. Di sini ia mengisengi Wadjda dengan merebut sandwich yang dibeli Wadjda untuk sarapan. Wadjda yang merasa terganggu pun tidak mau merelakan makanannya dan segera mengejar Abdullah.

Sampailah Wadjda di sekolah. Ketika murid-murid memasuki sekolah para murid bisa melepas penutup kepala mereka. Tetapi siapa sangka sang guru 'selamat datang', yang bernama Haussa tersebut, tidak dapat menertibkan murid-murid yang datang dengan tidak memakai kerudung dengan benar. Sang guru, yang rapi dengan pakaian formal modernnya, ini menegur beberapa murid yang tidak disiplin dan menegur mereka yang tertawa untuk diam agar tidak terdengar dengan kaum pria yang mungkin mendengara dari luar sana. Para guru di sekolah tersebut digambarkan tampil dengan pakaian formal modern, seperti baju kerja, dan tanpa kerudung, begitu juga dengan murid-murid yang berseragam baju hitam panjang khas.

Di dalam sekolah, murid-murid juga seringkali bergosip atau membicarakan hal yang tidak umum. Terdapat juga dua orang kawan dekat yang suka diam-diam mewarnai kuku mereka dengan kutek yang bisa menjadi masalah besar jika ketahuan guru mereka. Saat istirahat, anak-anak juga biasa bermain seperti halnya anak-anak biasa, seperti bermain tap gunung.



Sepulang sekolah, Wadjda kembali betemu Abdullah yang kali ini sedang bermain dengan sepedanya. Abdullah yang nakal pun iseng menarik kerudung Wadjda hingga lepas dan membiarkan Wadjda mengejarnya sampai dapat. Wadjda pun bersumpah bahwa ia akan memiliki sepeda dan ingin bertanding dengan Abdullah, tetapi siapa sangka seorang anak perempuan diperbolehkan bermain sepeda? Wadjda pun datang ke sebuah toko sepeda dan menaksir sebuah sepeda hijau cantik berharga 800 Riyal.

Sang pemilik toko pun menyindir harga sepeda itu terlalu mahal untuk Wadjda. Di lain hari, Wadjda membujuk sang pemiliki untuk menurunkan harga, seperti dengan cara membuatkan kaset kumpulan lagu-lagu, dan terus mengingatkan sang pemilik agar menyimpan sepeda itu untuknya.

Tak hanya usaha ke pemilik toko, Wadjda pun terus membujuk ibunya agar dibelikan sepeda. Namun sang ibu, yang terkadang banyak pikiran karena masalah dengan ayahnya, berkata ia tidak mungkin membelikannya dengan alasan sepeda bukan mainan untuk anak perempuan. Wadjda yang pintar pun tak kehabisan akal, ia semakin giat berjualan gelang tangan dan kadang menjual dengan harga lebih mahal untuk usaha menabungnya demi sepeda yang ia impikan.

Karena obsesinya pada uang, ia pun mau membantu salah satu sahabatnya untuk menghantarkan surat cinta kepada seorang cowok dengan imbalan dua puluh riyal. Ketika bertemu dengan cowok yang hendak dihantarkan surat itu pun, Wadjda berbohong dan meminta uang dari cowok tersebut. Tak disangka tindakan cerobohnya itu membawa Wadjda dalam masalah ketika remaja yang dicomblanginya tertangkap polisi syariah dan Wadjda ketahuan terlibat dalam rencana tersebut.

Di rumah, sang ibu yang mengetahui masalahnya menakut-nakuti Wadjda untuk dinikahkan daripada terus berbuat masalah. Di sekolah, sang guru 'selamat datang' yang tetap menjadi tokoh guru galak di sana memanggil Wadjda ke kantornya dan mengancam Wadjda untuk dikeluarkan kalau ia sekali lagi berbuat kesalahan. Ditambah lagi kesalahan karena cara memakai kerudungnya yang selalu tidak benar dan sepatunya yang bukan sepatu hitam standar yang dipakai murid kebanyakan. Lucunya, di rumah Wadjda malah hanya mewarnai sepatunya dengan spidol hitam karena ia tahu orang tuanya sedang kesulitan dan ia pun tidak mau mengeluarkan uang yang ia simpan.

Mengenai kedua orang tua Wadjda, masalah yang sedang mereka hadapi adalah ekonomi dan anak laki-laki yang tidak bisa mereka hasilkan. Tidak ada pertengkaran yang cukup keras di antara mereka, namun sang ayah tetap menginginkan seorang putra dan berencana menikah lagi untuk mendapatkannya. Sang isteri pun tak rela karena ia begitu menyayangi suaminya, terlebih karena mereka juga sudah memiliki Wadjda.

Selain itu, ibu Wadjda pun sedang berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik. Salah satu temannya ada yang mengajaknya untuk melamar di rumah sakit tempatnya bekerja, namun ketika ia melihat temannya bekerja dengan pria--begitu dekat sampai berani melepas penutup wajah--ibu Wadjda pun segera pergi karena ia masih sangat menyayangi dan menghormati suaminya yang tidak ingin ia dekat-dekat dengan pria asing.

Kembali lagi ke Wadjda, saat pulang sekolah, ia seperti biasa bertemu dengan Abdullah yang sedang bermain dengan teman-temannya. Abdullah yang melihat Wadjda menghampirinya untuk memberikan sebuah kerudung baru untuk Wadjda. Kebaikan Abdullah pun terus berlanjut. Saat Wadjda hendak menemui supir ibunya, yang mogok kerja pun Abdullah mau ikut menemui dan berbicara padanya. Bahkan Abdullah dengan lugunya mengancam supir itu agar melaporkan keilegalan tempat tinggalnya pada pamannya yang berkumis tebal dan bertrademark.

Kemudian, suatu saat Abdullah menawari sepedanya kepada Wadjda agar ia bisa belajar, sembari memasang lampu-lampu hias untuk pesta peresmian rumahnya. Mereka bermain di balkon atas rumah Wadjda. Abdullah mencoba membantu Wadjda belajar dengan memasang dua roda tambahan di roda belakang sepeda. Wadjda pun menolak dan mengatakan kepada Abdullah agar tidak memperlakukan ia seperti anak kecil, namun setelah itu Wadjda justru menangis seperti anak kecil dan baru mau diam jika Abdullah mau memberikannya lima riyal.

Sepeda yang dipinjamkan Abdullah untuknya belajar, cukup mengobati keputusasaannya untuk membeli sepeda baru. Namun harapan itu kembali muncul saat gurunya memberitahu kabar bahwa akan ada perlombaan menghapal Al-Quran, dan hadiahnya adalah 1000 riyal untuk juara pertama. Wadjda pun tergiur dan meyakinkan gurunya untuk ikut kelompok belajar agama agar ia bisa belajar Al-Quran.

Kesulitan pun dihadapinya, Wadjda tidak mampu membaca Al-Quran dengan lancar dan indah seperti teman-teman lama di kelompok tersebut, namun ia tidak patah semangat, Wadjda pun datang ke toko mainan tempat sepeda impiannya dijual dan merelakan uang tabungannya untuk membeli VCD permainan untuk belajar Al-Quran. Di rumahnya Wadjda terus giat berlatih menghapal dan membacakan ayat Al-Quran dengan indah. Ibunya yang memang memiliki suara indah pun turut membantu Wadjda belajar melantunkan ayat-aya Al-Quran dengan baik.

Saat kelompok agama berlatih Al-Quran, ada beberapa hal yang agak menggelitik. Salah satunya saat Wadjda berkata bahwa pahala orang yang baru belajar Al-Quran lebih banyak daripada yang mereka yang sudah mampu, namun itu ia katakan untuk ngeles dari keadaannya saat itu yang masih tertinggal, dan ia pun mendapat pujian. Ada lagi saat ceritanya anak-anak ribut melihat foto-foto salah satu teman mereka yang baru saja menikah dengan laki-laki berumur 20 tahun. Anak-anak pun heboh kegirangan, tak ketinggalan sang guru ngaji yang begitu gembira melihat foto-foto pernihakan murid kecilnya.

Kemudian tiba lah hari perlombaan hafidz Al-Quran tersebut. Ternyata tidak hanya hapalan ayat saja yang diperlombakan, tetapi juga hapalan makna kata/tafsir dalam ayat-ayat Al-Quran. Dari belasan anak yang ikut, satu per satu mulai tersisih karena gagal mengingat ayat-ayat yang diujikan. Hingga akhirnya Wadjda, yang tak disangka-sangka, masuk tiga besar. Ia bersaing dengan salah satu anak yang sama-sama cukup mulus dalam melantunkan ayat yang diminta juri, sementara salah satunya gagal karena tidak mampu menyelesaikan hapalan. Sebelum pengumuman pemenang, jeda acara diisi dengan salat berjamaah. Sang guru galak yang menjadi imam dalam salat berjamaah tersebut seperti memberi sinyal kemenangan kepada Wadjda dengan menawarkan posisi salat di sampingnya.

Benar saja, Wadjda berhasil diumumkan sebagai juara pertama. Sang guru galak yang juga menjadi juri pun memuji Wadjda dan kagum dengan usaha mulianya sehingga dapat menghapal Al-Quran dengan sangat baik. Ketika sang guru bertanya akan diapakan hadiah yang ia terima, Wadjda dengan sungguh-sungguh berkata bahwa ia akan memakai uang tersebut untuk membeli sepeda. Serentak murid-murid perempuan yang menontonnya pun terkikik dan tertawa. Sepeda seolah menjadi momok bagi mereka dan mendengar kesungguhan Wadjda seperti sebuah candaan.

Ekspresi sang guru pun berubah 180 derajat dan ia menasihati Wadjda sebagaimana ibunya menolak keinginannya. Sang guru lalu memberi keputusan sepihak, uang yang diterima Wadjda akan disumbangkan ke Palestina. Wadjda seketika merasa impiannya hancur karena keputusan tersebut, namun ia tidak dapat menuntut. Sang guru galak yang kecewa berkata bahwa Wadjda tidak berubah dari kelaluan buruknya, namun Wadjda dengan beraninya mampu melawan balik sang guru.

Sepulang sekolah, Wadjda bertemu dengan Abdullah di jalan. Wadjda yang masih marah dengan keputusan gurunya tidak terlalu menggubris pertanyaan Abdullah. Namun ketika Wadjda hendak berlalu, Abdullah berseru bahwa ia merelakan sepedanya untuk dimiliki Wadjda dan ia juga mengatakan bahwa ia ingin menikahi Wadjda saat mereka lebih besar nanti!

Kesedihan Wadjda masih berlanjut walaupun Abdullah telah begitu berusaha menghiburnya. Di rumah ia bertemu dengan ayahnya yang kemudian mengetahui anaknya menjadi juara dalam perlombaan Al-Quran. Namun setelah ayahnya pamit untuk pergi, tangis Wadjda pun keluar. Malam harinya, Wadjda menemui ibunya di balkon atap rumahnya. Sambil menghisap rokok ibunya terlihat sedang bersedih.

Melihat kedatangan Wadjda, sang ibu langsung meminta maaf karena tidak bisa melihat perlombaan tadi siang, namun dibalik itu ada cerita lain yang ingin disampaikan sang ibu, yaitu mengenai ayahnya yang ternyata memutuskan untuk menikah lagi. Acara pernikahan suaminya ternyata diadakan pada hari itu juga, hari yang sebelumnya mereka kira hari pernikahan paman Wadjda. Walau demikian, ibu Wadjda tidak membiarkan hati anaknya juga ikut hancur atas kabar tersebut. Ia pun mengejutkan Wadjda dengan sepeda baru yang selama ini diidam-idamkan Wadjda. Malam itu ditutup dengan pelukan sang ibu di tubuh mungil Wadjda dengan latar kembang api di langit dari tempat pesta pernikahan ayahnya.

Keesokan harinya, Wadjda keluar dengan sepeda barunya. Bersama Abdullah, Wadjda bermain dan mampu menyainginya sesuai harapan.

***

Review di atas kurang lebih menceritakan 80% kisah yang terjadi dalam film Wadjda ini. Jika saya boleh menambahkan beberapa scene kecil dengan pandangan saya, ada sejumlah bagian menarik baik yang merupakan bagian cerita, atau rekayasa sutradara, maupun yang bukan.

Konflik suami yang ingin menikah lagi karena isterinya tidak bisa memberikan keturunan laki-laki yang dapat memperbesar pohon keturunan keluarga, biasa terjadi di dalam masyarakat Arab. Dalam film pun sang isteri yang dimadu hanya bisa bersedih karena akan kehilangan suaminya, tanpa usaha keras untuk melawan, seperti dengan mengadu pada keluarganya atau meminta untuk diceraikan.

Adapun scene yang bukan merupakan bagian dari cerita, namun cukup menggelitik jika dibandingkan dengan budaya kita. Salah satunya ketika kelompok belajar Al-Quran melakukan kegiatan mereka. Baik sang guru maupun para murid tidak menutup aurat sepenuhnya saat membaca Al-Quran, tidak seperti muslim di sini yang justru akan menutup seluruh aurat saat membaca kitab suci. Beberapa cerita lainnya mungkin bisa kita maklumi, terutama jika kita seorang muslim, yaitu bagaimana perempuan dianjurkan merendahkan suara dan pandangan agar tidak diketahui pria.

Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, film ini memang begitu sederhana dengan sejumlah konflik yang mungkin begitu dalam bagi sejumlah orang, namun tetap disampaikan dengan halus, tanpa melebih-lebihkan. Seperti yang saya paparkan di atas, kita bisa lihat bagaimana sutradara tidak terlalu membuat alur cerita menjadi kompleks. Hanya dengan menunjukkan nilai-nilai adat istiadat keseharian warga Saudi saja sudah dapat membuat film ini begitu mengasyikkan untuk ditonton. Ditambah lagi dengan menapilkan kelucuan serta keluguan anak-anak yang baru menginjak remaja seperti Wadjda.

Kesimpulannya, siapa saja kalian musti harus menonton film ini! Nilai untuk Wadjda saya kira dapat dibuktikan dengan tepuk tangan meriah penontoh di teater Erasmus kemarin. Kalau dengan ukuran lima bintang, saya akan kasih 4,5 bintang (Y)


Comments