Jalan-Jalan di Timika (2)

Jalan-jalan di Timika jadi pengalaman mandiri saya yang paling random. Berbekal tiket gratisan dan uang hasil dagang kecil-kecilan sebagai freelance semi pengangguran, saya pun nekat pergi ke timur Indonesia. Beruntung saya mendapat seorang pustakawan dari satu sekolah dasar yang mau menerima saya sebagai tamunya dan mengajak saya berkenalan dengan Timika lebih dekat.

Akhir tahun 2014 itu, Timika tengah diancam konflik dan musim hujan yang tak menentu. Hari pertama, ketika saya tiba di pagi hariya, dihabiskan untuk berkenalan dengan SD tempat teman saya bekerja. Keseruan pun saya rasakan ketika bisa mengenal lebih dekat anak-anak lokal yang bersekolah dan berasrama di sana, serta beberapa staf sekolah yang merupakan pedatang dari luar Papua, di hari kedua.

Hari ke-3

Hari Minggu, tepat saat 17 Agustus, langit mendung dan hujan tidak menyurutkan semangat teman saya untuk memastikan saya bisa melihat-lihat kota Timika, termasuk Kuala Kencana. Datang ke Timika, Ibukota Mimika, tidak akan lengkap kalau belum mampir ke kota dalam kota yang terbilang modern tersebut.

Kuala Kencana adalah kota yang dikelola dan diperuntukkan untuk karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI). Di dalam sana tersedia banyak fasilitas yang diperuntukkan khusus untuk keluarga karyawan PTFI, persis seperti kota terencana BSD di Tangerang. Mulai dari perumahan, tempat belanja, tempat ibadah, pusat olahraga, pusat rekreasi, sekolah, semua tersedia di sana,

Pagi-pagi kami pergi ke sana dengan motor. Setelah berkendara hampir setengah jam dari pusat kota, kita sampai di pintu gerbang yang dijaga beberapa sekuriti. Kuala Kencana sendiri sebenarnya tidak dibuka bebas untuk umum. Kita harus menunjukkan KTP dan menyebutkan alasan kedatangan dan ke mana kita akan pergi, saat itu alasan kita adalah ingin pergi ke perpustakaan.

Saat sampai di pintu penjagaan, kami harus turun dari motor untuk menunjukkan KTP. Tapi proses waktu itu agak lama, karena ada aksi PDKT dari para sekuriti yang naksir saya dan teman saya (well, this must be off the record XD). 

Kota Kuala Kencana memang didesain sangat apik dan cukup kontras dibanding daerah yang kami lalui sebelum ke sana. Pepohonan hijau tetap mendominasi dengan ornamen khas Papua, jalanan di dalam dibuat ramah untuk pejalan kaki karena disediakan trotoar, bahkan ada jalur sepeda, dan rambu-rambu jalan yang banyak dan ditulis dalam dua bahasa.



Pertama-tama kita mampir ke perpustakaan. Perpustakaannya terbilang nyaman, koleksi buku dan media cetaknya pun lengkap dari dalam dan luar negeri. Orang selain warga Kuala Kencana pun bisa mendaftar sebagai anggota perpustakaan.



Setelah itu, kita pergi makan siang dengan beberapa staf pengajar di sekolah tempat teman saya bekerja. Mereka kebetulan habis ibadah Minggu di gereja setempat. Habis itu, lanjut belanja di supermarket Hero, yang dagangannya juga menyediakan produk asing (kemungkinan untuk karyawan asing PTFI).



Tapi untuk bisa belanja kita harus punya kartu akses yang hanya dimiliki mereka yang bekerja untuk PTFI, yaitu Universal ID PTFI yang hanya dimiliki oleh karyawan dan keluarganya atau karyawan tamu. Saat itu kita serombongan dapat pinjaman kartu dari staf sekolah yang mengajar di Kuala Kencana. 


Tidak hanya Hero, di sana juga ada department store kecil yang menjual keperluan rumah tangga. Berbicara soal harga barang, baik di Kuala Kencana atau di Timika sendiri, hanya berbeda sedikit dari harga di Jakarta. Barang impor, dari Australia, pun cukup murah, ya karena jarak distribusinya lebih dekat.

Kemudian saya dan teman saya kembali berkeliling Kuala Kencana untuk melihat beberapa lokasi menarik di sana, seperti taman dan beberapa wilayah perumahan. Yang bikin saya kagum di sana adalah kita tidak akan melihat kabel-kabel berseliweran di atas jalanan. Menurut yang saya dengar, Kuala Kencana adalah kota pertama di Indonesia yang punya saluran kabel listrik, telkom, serta saluran air bersih dan pengolahan limbah yang terpusat. 


***

Selesai lihat-lihat di Kuala Kencana, kami kembali menyusuri jalanan kota Timika. Pertama, kita mampir ke tempat yang menjual souvenir Freeport, yang menjual mulai dari jaket sampai pulpen berlabel PTFI. Iseng-iseng saya pun foto pakai jaket PTFI, walau agak merasa sangsi karena takut mengkhianati negeri.. Upss...


Selanjutya, kita mampir ke pasar darurat di pinggir jalan. Teman saya bilang ini kesempatan langka saya bisa bertemu mace mace. Dengan strategi membeli kacang tanah, saya pun berhasil berfoto bersama mereka.. Ehehehe





Akhir kata, selamat ulang tahun Indonesia. Semoga kesenjangan yang bisa memcah belah rakyatmu dari Sabang sampai Merauke bisa berkurang sedikit demi sedikit.

Comments

  1. sering traveller kah? saya dari jawa ini saya baru sekitar 3 bulan kerja disini. bisa jadi referensi yang bagus bagi saya untuk berpetualang dikota ini.

    ReplyDelete

Post a Comment