Kuliner di Aceh yang Harus Dicoba (1)

Dulu saya cuma tahu kalau mie Aceh makanan primadona dari provinsi paling barat Indonesia tersebut, tapi ternyata ada banyak makanan enak di sana! Walaupun cuma mencicipi beberapa kuliner di Banda Aceh dan Sabang, saya bisa pastikan makanan Aceh sama mantapnya dengan makanan Minang!

Mengingat sejarah dan posisi Aceh yang menjadi tempat pertemuan berbagai bangsa dahulu kala, kuliner Aceh pun menjadi kaya rasa. Berbicara soal makanan, banyak orang yang bilang makanan aceh enak karena gele atau ganjanya, tapi ternyata nggak selalu. Kalaupun ada dan nggak sampai menimbulkan efek pusing dan merusak jadwal aktivitas kalian, itu nggak masalah. Pissss...


Saat di Banda Aceh, saya dua kali datang ke rumah makan yang meminjam nama ulama besar di Aceh dulu, yaitu Syiah Kuala, karena memang kebetulan berdekatan dengan makam ulama tersebut. Ketika datang ke warung makan Tanyoe Syiah Kuala, pelayan segera menyajikan beberapa hidangan dengan nasi, emping, dan air kobokan. Beberapa makanan khas yang disajikan seperti kari kambing, ayam tangkap daun temurui, ikan paya, ikan kayu, udang goreng.

Ayam goreng kampoen aka ayam tangkap dan daun temurui
Ikan kayu sambalado
Kari kambing dan ikan paya
Nom nom nooom...
"Rujak" labu dan udang kecil yang bikin makanan makin nendang
Es timun serut
Ciri khas unik dari makanan Aceh yang saya ketahui adalah daun kari atau yang dikenal di sana sebagai daun temurui. Daun yang disajikan dengan digoreng ini biasanya juga ditemani daun pandan goreng untuk menghijaukan piring hidangan. Tapi jangan salah, daun itu bisa dimakan dan rasanya asik banget! Selain itu ada jantung pisang (yang merah-merah kayak bunga) juga banyak ditambahkan untuk menciptakan aroma segar pada kuah santan.

Malam hari, ingin cari makan di Bandar Aceh? Nggak usah kuatir, ada banyak rumah makan yang buka sampai malam, selain warung-warung kopi yang sering ditongkrongin bapak-bapak dan anak muda juga. Waktu itu, saya dibawa teman saya ke Restoran Canai Mamak Kuala Lumpur yang terletak di jalan Teuku Umar No. 51. Di sana saya membeli mi aceh dan canai dua rasa, kari dan cokelat keju untuk dibawa pulang. Rasanya? Jelas enak--walaupun kata teman saya ada rumah makan lokal lainnya yang menjual mie Aceh paling enak.


Kulineran di Aceh nggak lengkap kalau nggak cobain kopi khas aceh. Minum kopi memang sudah jadi tradisi orang Aceh. Barista pun banyak lahir di sana. Di antara warkop yang terkenal adalah Solong dan Zakir Coffee, tapi ada warkop lain yang saya datangi waktu itu, yaitu Blang Padang Coffe Luwak Gayo Arabica. Saya pesan segelas coffee latte tapi sempat juga nyicip espresso punya teman. Nggak hanya minum di tempat, kita pun bisa beli kopi bubuk yang diproduksi sendiri oleh warkop tersebut.


Comments