Ngebolang di Sumatera: Padang dan Bukittinggi

Anak keturunan Minang belum tentu kenal daerah asal nenek moyangnya. Ya, saya contohnya. Walaupun waktu kecil beberapa kali diajak pulang ke kampung keluarga besar, saya belum banyak tahu tempat-tempat wisata terkenal di sana. Sekarang, mumpung udah gede dan lagi gila jalan, nggak salah kan kalau saya mencoba mengeksplor bekas wilayah Kerajaan Adityawarman ini.

Dua teman saya yang petualang gunung sejati sudah bilang ke saya kalau ingin survei ke Gunung Kerinci di Jambi, bulan Agustus, selama seminggu. Saya pun maksa untuk gabung setelah mereka selesai turun dari gunung, berhubung saya cuma bisa izin kerja dua hari, saya hanya ikut bagian jalan-jalan santai di dataran rendahnya aja.

Dari Bandara Minangkabau, saya naik Bus Damri untuk menuju Taman Imam Bonjol, di Jalan Proklamasi, yang juga jadi tempat pemberhentian terakhir Damri. Dua teman saya sudah mendapatkan hostel untuk menginap malam itu. Musafir Inn yang kita inapi berada di sekitar Jalan Proklamasi, tepatnya di Jalan Tarandam no 31.

Ngomong-ngomong, sebelum berangkat saya sudah bikin rencana perjalanan yang diambil dari pengalaman orang lain. Tapi agaknya memang nggak pas, waktu dan cara travelingnya. Kita cuma punya waktu penuh dua hari. Selain itu, juga nggak ada jalan lain selain ngeteng transport selama perjalanan, karena kita nggak mungkin sewa mobil. Malam pertama itu kita pun menyusun rencana untuk jalan-jalan di Padang terlebih dulu keesokan harinya.


Hari pertama: Padang

Pagi keesokan harinya, seperti biasa kalau di tempat baru, saya selalu bisa bangun kepagian. Setelah solat Subuh saya coba izin ke pemilik hostel yang berjaga untuk pergi keluar, jalan-jalan pagi. Berhubung lokasi hostel lumayan dekat dengan Taman Imam Bonjol, saya pun memutuskan pergi ke sana. Gaya mungkin udah persis kayak warga yang mau olahraga santai di sana, tapi saya malah kebanyakan foto-foto dan selfie.




Foto iseng: Polantas Wanita
Sekembalinya dari Taman Imam Bonjol saya pergi mandi dan memulai hari yang lambat bersama dua makhluk penakluk Gunung Kerinci dengan sarapan. Pagi itu kita memutuskan untuk melihat Pantai Padang terlebih dulu, kalau memungkinkan juga ke Jembatan Siti Nurbaya yang legedaris itu. Setelah bertanya-tanya dengan penjaga hostel, kita check-out dan menitipkan barang kita sebelum jalan-jalan.

Dari seberang hostel, kita naik angkot warna pink (iya, pink) yang melewati Plaza Adalas. Dari seberang Plaza, kita jalan kaki kurang dari 10 menit untuk sampai ke pinggiran pantai. Kebetulan ada pedagang kelapa muda yang baru buka di pinggir jalan raya yang lebih tinggi dari batas pasir pantai. Saya dan dua teman saya memilih untuk duduk di sana dan menikmati angin laut menjelang tengah hari dan kelapa muda "seger murmer".

Tipikal pantai di Padang yang memang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia adalah berombak besar. Saya jadi ingat waktu kecil main ke Padang bersama keluarga,Tinggi ombak bisa sampai dua meter atau lebih. Menjelang malam, di pantai kita juga bisa melihat matahari terbenam, yang seingat memori kecil saya sangat menakjubkan. Sayang, kita tidak sempat datang ke pantai di sore hari.

Setelah makan siang, selanjutnya kami pergi untuk beli oleh-oleh di toko oleh-oleh makanan khas Padang. Apalagi kalau bukan Toko Christine Hakim, yang letaknya di Jalan Nipah. Dari Plaza Andalas, atas saran beberapa masyarakat lokal, kami jalan kaki. Emang dasar orang Minang kali ya, jarak lokasi yang ditempuh 20 menit dengan jalan kaki dibilang dekat. Untungnya kita bukan anak Ibukota manja (malas 'n jaim :P).    

Untuk mencapai Toko Christine Hakim dari plaza itu rutenya tidak terlalu sulit dan pemandangan kotanya cukup menyejukkan. Kita bahkan sempat melewati Museum Adityawarman, sayangnya, waktu itu tutup. Ketika kita hampir sampai, kita menemukan kalau Jembatan Siti Nurbaya ada di hadapan kita, setelah Toko Christine Hakim. Tapi kita memutuskan untuk tidak ke sana, dan memilih belok kiri untuk shopping oleh-oleh, yuuuk cyyyn.


Sekitar waktu Ashar, setelah ambil barang di hostel, kita pun pergi untuk meninggalkan kota Padang menuju Bukittinggi. Dari Taman Imam Bonjol, kami naik Bus Trans Padang dengan ongkos Rp3.500 ke Basko Grand Mall. Daerah di seberang mall itu memang tempat berkumpul angkot dan travel lintas kota. Kami pun lanjut naik bus kecil ke Bukittinggi 2,5 jam dengan membayar Rp20.000. Bus mini ini melalui Jalan Raya Padang-Bukittinggi dan Kabupaten Padang Panjang.

Begitu sampai di titik terakhir bus, kita lanjut naik angkot yang mau membantu kita mencari tempat penginapan. Supir angkot membawa kita ke hostel di pinggir Jalan Panorama yang letaknya di seberang pintu masuk Taman Panorama Lobang Jepang (TPLJ).


Hari kedua: Bukittinggi

Pagi menjelang siang saya dan teman mencoba menelusuri daerah sekitar tempat kita tinggal. Ternyata memang dekat dengan tempat-tempat yang menjadi ikon Bukittinggi. Sebut saja Jam Gadang, Lobang Jepang, Ngarai Sianok, Istana Bung Hatta, beberapa monumen, sampai distro kaos kata-kata Kapuyuak. Seharian kita hanya perlu berjalan kaki untuk melihat-lihat semuanya.


Jam Gadang



Taman Panorama Lobang Jepang

Taman Panorama Lobang Jepang (TPLJ) ini hanya berjarak sekira 10 menit dari Jam Gadang dengan berjalan kaki.




The Great Wall of Koto Gadang, Tembok Cina nya Sumatera Barat

Setelah keluar dari Lobang Jepang, pengunjung bisa langsung mengikuti jalan berkelok untuk masuk ke kawasan Janjang Koto Gadang dan melihat Ngarai Sianok. 

 


Ngarai Sianok






Distro Kaos Kapuyuak

Kalau Bali punya Joger, Yogyakarta punya Dagadu, Sabang punya Piyoh, Padang punya Kapuyuak. Di Bukittinggi ada dua distro, yang letaknya saling berdekatan. Lokasinya pun ada di antara jalan menuju Jam Gadang dan TPLJ.


***

Rute perjalanan kita sehari di Bukittinggi. Cukup jalan kaki, kok!

Comments

  1. Mau liburan atau coba travelling ke Bangka Belitung.

    http://aderiorental.com

    ReplyDelete

Post a Comment