Backpacker ke Bima: Maja Labo Dahu

Kunjungan saya ke Bima pertengahan 2015 ini karena dasar ingin silaturahim ke rumah teman kuliah saya. Sebut saja namanya Nahri, pemuda asli Bima yang pernah merantau ke Depok untuk menuntut ilmu. Sejak kuliah dulu, teman saya ini selalu berusaha membujuk teman-temannya untuk main ke kampungnya yang nun jauh di sana. Setelah lulus kuliah, bujuk rayunya pun semakin menjadi. Entah mengapa saya yang terhipnotis untuk menginjakkan kaki di Kota "Bima" Berteman tersebut.


Bima adalah satu wilayah di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Setelah sering didoktrin oleh Nahri sewaktu kuliah dulu, saya jadi tahu sedikit banyak tentang Bima. Bukan cuma susu kuda liarnya yang terkenal, Bima juga punya pantai-pantai indah yang menggiurkan mata.

Setelah bisa nyari duit sendiri, saya pun berani meniatkan untuk main ke Bima dan mengunjungi teman saya yang juga sudah mendapat pekerjaan di kampung halamannya. Walaupun sempat beberapa kali PHP, akhirnya jadi juga perjalanan saya ke Bima. Tapi dengan catatan, saya harus stok 26 artikel berita untuk izin dua hari--karena waktu itu belum dapat cuti dari kantor. Yah, walaupun beberapa hari nggak tidur, yang penting besoknya bisa libur empat hari!

Dari Jakarta saya berangkat naik pesawat Jumat sore itu--dengan sedikit drama terjebak macet tapi beruntung pesawatnya delay... Kemudian transit di Lombok dan harus menginap di bandara bersama TKW yang kabur dari Brunei (lagi-lagi drama). Setelah subuh, saya pun melanjutkan perjalanan menuju Bima dan sampai sekitar pukul delapan pagi. 


Hari ke-1

Tak lama menunggu, setibanya di Bandara Sultan Muhammad Salahudin Airport (BMU), teman saya pun datang menjemput. Sempat heboh mengobrol karena lebih dari setahun berpisah setelah wisuda, mata saya dikejutkan dengan pemandangan teluk Bima yang "wow"! Jalan lurus, sesekali berkelok, di pinggir teluk luas pagi hari itu benar-benar bikin takjub. Sesekali turun untuk berfoto di pinggir teluk (sepertinya itu kali pertama lihat teluk :,)).



Bung Nahri, demikian teman saya biasa disapa, baik sekali karena menawarkan saya berhenti kalau mau foto pemandangan bagus di perjalanan menuju rumahnya. Padahal pagi itu doi harus ke kantor untuk penilaian... Bahkan bung ini sempat mutar balik karena saya nggak dapet foto palang kota yang bertuliskan "Maja Labo Dahu", sebuah slogan berbahasa Mbojo. "Maja" artinya malu, "Labo" kata penghubung "dan", dan "Dahu" berarti takut.
"Malu dan takut". Bisa dipahami sebagai suatu pengingat dan nasihat tentang tata krama, juga akhlak. Orang yang mempunyai rasa malu, senantiasa dapat menahan diri dari perbuatan yang mengganggu manusia dan tidak mau menuturkan kata-kata yang keji dan buruk terkutuk. Kira-kira filosofinya seperti itu, dan ini diambil dari nilai keislaman, yang telah menyebar di Bima sejak periode masuknya Islam ke Indonesia.
Hari pertama, saya pun diajak berkeliling oleh Kak Nadhira dan Aba (abang) yang saya lupa namanya.. Dengan mobil, kita menyusuri setengah teluk Bima. Sepanjang jalan saya melihat banyak saung-saung kecil atau bangku-bangku yang katanya ramai didatangi anak muda. Sesekali perkampungan nelayan dengan rumah-rumah panggung khas Bima, yang disebut Uma Lengge. Ada juga beberapa pantai yang dijadikan tempat wisata. Di tengah teluk Bima ada pulau-pulau juga loh, salah satunya Pulau Kambing.

Nemu pohon yang bagus buat difoto
Sejak awal sampai di Bima, saya selalu mendengar mereka sedikit-sedikit bilang "lembo ade", yang bisa berarti "sabar" atau "harap maklum". Seperti sepanjang perjalanan menyusuri teluk, beberapa kali Kak Nadhira meminta saya memaklumi sampah yang sering terlihat menumpuk di pinggir jalan. Menurut pengakuannya, salah satu masalah yang agak sulit dibenahi di Bima adalah masalah sampah. Hmmm...

Pantai Kolo yang dijadikan tempat wisata

Hari ke-2
Hari Minggu yang cerah itu saya diajak keluarga Nahri tamasya pantai di daerah Sape yang berada sebelah Timur kota Bima. Perjalanan di tempuh dengan mobil selama kurang lebih dua jam. Tapi sebelum itu, mereka mengajak saya mampir ke salah satu situs warisan masyarakat agraris Bima, yaitu Lumbung Padi Uma Lengge.

Uma Lengge yang membentuk komplek tersebut dibuat untuk keamanan hasil panen warga. Mengingat desa tersebut adalah wilayah tadah hujan, hasil panen biasa disimpan lama untuk kebutuhan sandang warga di saat kering. 

Menurut penjaga komplek tersebut, rumah ini bentuknya khas percampuran atap bergaya lombok dan fondasi dari kayu bali. Di bantu dinas pariwisata setempat, kompleks yang masih berfungsi tersebut dijadikan situs budaya.

Desa Maria, Kec Wawo, Kabupaten Bima

Dari sana, saya lanjut dibawa melalui persawahan dan perkebunan warga yang beraneka ragam di sepanjang jalur Wera-Sape. Menyusuri pinggir tebing yang lebih tinggi dari kota Bima, sampai ke kampung nelayan menuju Pantai Lariti.

Karena kita berencana bakar ikan di pinggir pantai, kita mampir ke pasar dulu untuk beli beberapa ikan segar. Waktu di pasar, saya penasaran dengan ibu-ibu yang memakai sarung dengan cara unik--macam kostum orang ronda atau mainan maling-malingan di tempat saya :S



Ternyata mereka memakai rimpu, yaitu sarung tenun yang dipakai dengan cara tertentu untuk identitas perempuan. Kalau yang sudah menikah wajahnya terbuka, kalau yang belum hanya matanya saja yang terlihat, kata ibu teman saya. Saya yang penasaran pun dijanjikan akan dipakaikan rimpu sepulang dari Sape. Penasaran? Lihat nanti ceritanya di bawah ;D


Lanjut terus, akhirnya kita sampai di pantai! Saya, Nahri, Kak Nadhira, dan dua keponakan mereka yang turut ikut langsung meluncur ke pantai yang menurut saya kereeen.. Pantai yang tenang ini punya pulau kecil tidak jauh dari tempat kami berteduh. Pulau kecil tersebut bisa didatangi dengan berjalan kaki. Yep, ada fenomena semacam laut terbelah yang membuat orang bisa berjalan kaki menuju daratan di seberang.

But firts, let me take a selfie
Cottage yang tidak selesai dibangun
Setelah main-main, kita langsung masak ikannya dengan cara tradisional. Mbojo bersaudara ini tampak sudah biasa membuat api dari batu, yes, gosok-gosok batu kayak orang zaman purba dulu. Lalu ikan dimasak dengan membuat panggangan sendiri dengan menyusun batu dan ranting-ranting pohon yang sudah mati.

Sementara itu, ibu teman saya membuat sambal mentah dengan irisan bawang merah, cabai, dan jeruk nipis mentah. Aaaaahhh, kalau diinget lagi jadi lapar saya...


Hari ke-3
Hari ketiga, hari Senin, waktunya eksplor kota Bima. Teman saya Nahri, tidak sempat menemani karena harus kerja, tapi masih ada Kak Nadhira yang baik hati mau menemani saya. Setelah mengikuti aktivitas keluarga mereka di pagi hari, siangnya saya dan satu saudara Kak Nadhira memandu saya ke Museum Asi Mbojo.


Asi Mbojo atau Istana Kesultanan Bima dulunya adalah pusat pemerintahan Kesultanan Bima, sekaligus tempat tinggal Sultan Ibrahim. Tiket masuknya murah, cuma Rp2.000 untuk dewasa, Rp500 untuk anak-anak, Rp3.000 untuk wisatawan, serta Rp1.000 untuk pelajar atau mahasiswa.

Yang dipamerkan di museum ini mulai dari benda pusaka dan peninggalan kesultanan, galeri sejarah dan budaya Bima, sampai ruangan yang dipakai keluarga kesultanan terakhir yang dibiarkan seperti apa adanya. 





Catatan tersisa yang sayang dibuang, siapa tahu berguna......Salahudin adalah Sultan terakhir di tahun 1950an...Abdul Kahir Rumata sultan pertama Bima Setelah diislamkan...Keris bumilanggadi...Bunga setangkai artinya percaya pada yang satu...Tatarapa keris, sondi pedang...Tempat padi jompa, rumah lengge rumah tradisional bima

Comments