Gerbong Gelap

Jam di salah satu toko kelontong peron stasiun menunjukkan pukul 18.45, ketika kereta ekonomi tujuan Jakarta memasuki stasiun. Setelah menunggu lebih dari setengah jam, ditambah dengan waktu keterlambatan kereta yang seharusnya datang dua puluh menit lebih awal, kini saatnya pulang!
Cermin ini ditulis pada tanggal 15 November 2012
Sambil menunggu kereta berhenti, kulihat beberapa gerbongnya "cukup kosong" dan tidak berlampu, termasuk gerbong belakang yang hendak kunaiki. Gelap, total. Ugh, mendesah pun tak ada artinya, aku cinta kereta ekonomi dengan segala kekurangannya--yang penting bisa pulang dengan selamat dan hemat.

Kereta berhenti, aku pun segera masuk lewat pintu terdekat bersama penumpang lainnya. Beruntung, seorang bapak segera berdiri dan menawariku tempat duduknya. Sementara itu, penumpang-penumpang lain yang tadi naik bersamaku bergegas menuju gerbong lain yang berlampu.

Sesaat kemudian kereta mulai bergerak dan meninggalkan stasiun. Kecepatan kereta membuat udara di sekitarnya bergerak melalui pintu-pintu dan jendela-jendela yang terbuka. Udara dingin seketika membuat lenganku yang terbuka menggigil, lalu kupeluk ransel yang kusampirkan di depan dada.

"Uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhh... Beeeh, beeeh..."

Sekonyong-konyong pekikan aneh itu muncul. Beberapa dari penumpang terlihat kaget dan terganggu dengan suara itu, sebagian lain tak acuh dengan keberadaan pengamen "gagu" itu. Aku meraba kantong kecil di depan ransel. Tak ada receh.

Pengamen itu terus menyanyi dengan kegaguannya sambil menadahkan tangan ke hadapan para penumpang. Antara geli dan iba, aku memperhatikanya sampai ia menghilang dari kegelapan. Tiba-tiba terdengar suara lain yang meniru suara pengamen tadi, dari seorang pemuda yang berada di seberangku.

Laki-laki itu bangkit, sambil menarik ritsleting celananya, mengucapkan kata umpatan. Liar. Laki-laki yang hanya memakai atasan kaos kutung itu duduk di samping perempuan yang setengah tertidur. Setelah kembali duduk, perempuan itu menarik paha laki-laki tersebut lalu menjatuhkan kepalanya di atasnya.

Sementara itu, aku hanya bisa membenamkan wajah di atas ranselku yang keras. Adakah pemandangan lain yang lebih menarik dari itu? Gemuruh kereta yang baru saja bergerak mengalahkan kesunyian di dalam gerbong. Berkelebat cahaya lampu jalanan menambah kengerian dalam gerbong gelap ini.

Beberapa stasiun telah terlewatkan selama sepertiga jam. Aku kembali meluruskan punggung dan merubah posisi kaki. Ketika itu, mataku tiba-tiba terpaku pada pemuda lain yang berada di seberangku. Wajahnya yang sesekali menghasilkan siluet menampakkan sesuatu yang entah mengapa menarik perhatianku.

Tanpa sadar aku menatapnya beberapa detik sampai aku tersadar bahwa pemuda itu juga memperhatikanku. Ugh, ada apa ini? Aku pun menunduk, malu pada diri sendiri. Perlahan ku rasakan masinis menurunkan kecepatan kereta. Penumpang yang berada di sampingku bergerak untuk bangit dan turun.

"Permisi."

Sebuah suara terdengar dari samping tempat ku duduk. Aku mengangkat kepala dan tebak siapa yang ku lihat? Ternyata dia adalah pemuda yang sempat beradu pandang denganku tadi. Cahaya lampu dari peron stasiun di atas kepala kami memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya.

"Mau ke mana, mbak?" pertanyaan laki-laki itu membuatku bergidik. Pada beberapa kesempatan di kereta, sudah cukup sering kutemui orang-orang yang mengajakku mengobrol. Namun, obrolan yang dimulai dengan pertanyaan demikian membuatku pesimis, terlebih karena dia terlihat seperti masteng.

Sayangnya, tak ada yang bisa ku lakukan kecuali menjawabnya. "Kalibata," balasku cepat sambil menjaga pandangan dari tatapannya. "Kalau masnya mau ke mana?" tiba-tiba pertanyaan itu meluncur keluar dari mulutku. Otot rahangku serasa terjepit. Satu pertanyaan untuk membuatku terjebak. 

"Ke mana? Ke Cikini, nganterin mbak boleh?"

Eh? Benar feelingku, cowok ini benar-benar seorang masteng! Aku pun memilih untuk diam daripada meladeni pertanyaan "mas-mas tengil" ini. Kini giliran syaraf-syaraf perutku yang terasa seperti terjepit. Ingin rasanya segera turun dari kereta ini, tapi stasiun tujuanku masih harus melewati empat stasiun lagi.

"Kok mbak kayak ketakutan gitu sama saya. Saya enggak jahat kok. Cuma saya tadi liat mbak di kampus, pas saya nyamperin temen saya yang jadi karyawan di sana. Terus tadi ngeliat mbak. Pingin aja gitu ngajak ngobrol."

Ehh? Sebagian syaraf di perutku mulai meregang. Penjelasan dari laki-laki ini sedikit membuat rasa pesimisku berkurang. Walau demikian suasana masih terasa aneh karena pendekatan spontan seperti itu. Aku pun memberanikan diri untuk menengok ke arah pemuda itu dan dengan mengangguk kikuk. 

"Saya terakhir sekolah di SMK mba. Udah tiga taun yang lalu. Sekarang saya kerja, jadi... anu, di warnet gitu."

"O-oh..." Laki-laki ini terdengar serius dengan pengakuannya tadi. Melihat dia bercerita sambil menundukkan kepala membuatku terenyuh. Sepertinya dia orang baik-baik, dan mungkin saja dia mempunyai masalah--yang ingin didengarkan orang lain, seperti aku.

"Saya pingin aja gitu, bisa kuliah, terus gampang kerja. Kalau mbak bisa kuliah gimana caranya?"

Aku mengangkat kedua alisku ketika mendengar pertanyaan ini. Belum pernah orang lain menanyakan hal semacam itu. Yang biasa ditanyakan orang adalah: kenapa mau memilih jurusan ini-itu, mau jadi apa nanti setelah kuliah? Bukan bagaimana bisa kuliah? Mengapa aku bisa sampai di bangku kuliah?

"Caranya? Ya, belajar, cari informasi, ikut ujian masuk perguruan tinggi."

Laki-laki itu menyunggingkan senyum tipis setelah mendengar jawabanku. Seperti ada yang aneh dari jawabanku. "Saya juga lulus SMA tiga tahun yang lalu. Setau saya murid SMK juga punya peluang masuk perguruan tinggi," kataku menambahkan.

"Iya. Mungkin, tapi, mbak lebih beruntung dari saya. Temen-temen SMK saya dulu jarang yang ngelanjutin sekolah sampai perguruan tinggi. Paling kerja di mal-mal gitu, atau kalau yang dulu ambil jurusan tata boga kerja di restoran-restoran mal-mal gitu."

"Emang masnya sendiri dulu ambil jurusan apa?"

"Elektro. Tapi dulu saya masih seneng main-main. Saya kerja di warnet juga kerena dulu sering main ke warnet. Begitulah, sampai sekarang saya nggak bisa ngapa-ngapain. Mana saya anak pertama lagi mbak."

Curhatan laki-laki ini membuatku tersadar, masih banyak anak muda yang terjebak dalam keadaan tertinggal. Bahkan di saat mereka telah keluar dari situasi tersebut, keadaan tersebut masih terbawa-bawa dalam diri mereka. "Saya juga anak pertama. Yah, alhamdulillah saya bisa kuliah sekarang."

"Itu beruntung namanya, mbak."

Beruntung? Iya, tentu saja. Tidak banyak orang yang bisa sepertiku saat ini. Kuliah di universitas terbaik, dengan biaya murah, dan sebagainya. Sementara banyak orang lain tidak bisa seberuntung ini walau itu bukan pilihan mereka!

"Sebenernya saya cuma pingin jadi orang berguna. Ya, nggak musti kuliah juga. Kalau bisa kerja dan menghasilkan, saya juga bakal bersyukur banget mbak."

"من الظلمات إلى النور ..."
"Saya, bisa kuliah bukan cuma karena beruntung, bukan semata takdir saya juga. Setiap orang bisa kuliah, bisa kerja apa aja, bisa jadi apa. Tergantung gimana kita mau mencoba dan berusaha. Maksimalin usaha, tau diri tapi jangan rendah diri. Dari situ kita bisa tau mana yang untung, mana yang tidak."

"Umm... " ujarnya sambil mengangguk pelan, lagi-lagi senyum tipis terlhat di bibir laki-laki itu. Aku menghela napas lega. Aku sendiri merasa tidak pantas memberinya petuah yang belum tentu aku bisa melakukannya. Bagaimana pun tidak akan ada yang bisa membantunya kecuali dirinya sendiri, ya kan?

"Jadi, kuncinya berusaha dan berdoa aja, ya, mbak."

"Hmm." Kali ini aku mengangguk keras dan pasti. Kita semua mengetahui itu bukan? Tidak ada yang bisa merubah nasib seorang manusia kecuali dia mau merubah dirinya sendiri. Dan tidak ada yang bisa keluar dari kegelapan kecuali dia mau mencari dan mendapatkan pencerahan.

Cahaya gemerlap dari gedung yang menjulang di langit di hadapanku mulai menarik perhatian. Seiring dengan waktu, pembicaraan kami harus terhenti di sini. "Ketemu kan kuncinya, berusaha dan berdoa. Buat sukses itu, nggak ada istilah basi kok," ujarku, mengakhiri pembicaraan.

"Saya duluan, ya." Aku mengucapkan salam kepada laki-laki itu. "Hati-hati ya, mbak!" Aku mengangguk singkat, berterima kasih, lalu bangkit dan bergegas menuju pintu di ujung belakang gerbong bersama penumpang lain yang hendak turun di stasiun Kalibata. 

"Mbak, namanya siapa?!"

"Aisyah!" teriakku asal, kemudian beranjak keluar dari gerbong kereta yang gelap itu. 


Comments