Backpacker Lombok (Malimbu - Pantai Lombok Selatan)

Setelah berhasil menaklukkan Gunung Rinjani, kurang rasanya kalau tidak sekalian keliling Pulau Lombok. Di trip kedua kali ini alhamdulillah saya bisa (dibilang hampir sudah) keliling Lombok!!! Kalau sebelumnya cuma muter-muter di Senggigi dan Mataram, kali ini saya menyambangi Lombok Utara, Barat, dan Selatan, dalam waktu dua hari.

Start dari Desa Senaru, yang menjadi tempat saya dan geng pendaki bermalam setelah turun dari Gunung Rinjani. Minggu pagi sekitar pukul sembilan, saya dan enam orang teman berangkat dengan guide dan pak supir yang sudah menjemput kami di basecamp.

Untuk perjalanan kali ini, kita dibantu oleh Bang Tape, pemuda asli Lombok yang membantu kami dari pertama kali sampai di Lombok untuk ekspedisi Rinjani, sebagai guide kami. Terima kasih juga buat pamannya Bang Tape yang mau mengantarkan kita kesana kemari dengan mobilnya :D

Di pagi yang cerah itu, kami meninggalkan Senaru. Sebelumnya kami mampir ke rumah Bang Wir. Abang yang ganteng ini adalah porter yang membantu kami selama di Rinjani. Di sana, teman saya Koko minta tolong untuk dibelikan sebotol brem, salah satu minuman beralkohol khas Lombok, untuk oleh-oleh.


Bukit Malimbu
Bukit Malibu (Model: Fany)
Oke, pemberhentian pertama kami adalah bukit Malimbu di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Mobil berhenti di pinggir jalan raya di sebuah kelokan yang dibatasi pagar biru, senada dengan warna laut yang menghampar luas.
Tanda nama Malaka, yang entah kenapa huruf A pertamanya hilang  (model: Koko)
Begitu turun, kita disambut pedagang dan beberapa toko yang berjualan makanan, topi, sampai mutiara air tawar khas Lombok yang dijadikan perhiasan. Mungkin karena masih lapar makanan enak setelah turun gunung, kita langsung serbu warung yang jual gorengan, keripik, rujak, dan es kelapa. Lalu kita pun mencari lapak untuk piknik kecil-kecilan.


Bukit Malimbu posisinya menjorok ke laut yang ditanami pohon-pohon kelapa dan rerumputan yang jadi tempat main sapi. Di sebelah kanan, kita bisa lihat pulau-pulau aka Gili, dan di sebelah kiri terdapat teluk.



Taman Narmada

Puas berfoto-foto dan bersantai, kita mengikuti tawaran guide kita untuk makan siang di satu restoran ayam Taliwang di Lombok Barat (image is not available). Rencana kita berikutnya adalah Taman Narmada (baca: Narmade) di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat.

Cukup membayar Rp6.000, kita bisa berkeliling Taman Narmada yang luasnya sekitar 3 hektare. Taman ini juga disebut sebagai replika Gunung Rinjani, tapi jangan bayangkan ada replika Gunung Rinjani beneran ya. Istilah dan taman itu digunakan raja dari kaum adat Hindu terdahulu untuk melakukan ibadah.



Beberapa pura di taman tersebut juga masih dipakai oleh penganut Hindu. Ada juga pemandian suci yang bisa dimasuki masyarakat dengan syarat tertentu. 


Secara keseluruhan tempat, yang namanya jadi merek Aqua-nya Lombok, ini bisa digunakan untuk belajar sejarah, budaya, dan rekreasi. Di pintu keluar, yang belum sempat atau sekalian mau membeli souvenir dan oleh-oleh khas Lombok, wisatawan bisa dapatkan juga di sana.

***

Taman Narmada pun menutup sisa hari petualangan di Lombok. Guide kita berbaik hati mempersilakan kita menginap di basecamp Pujut Jonggat Rinjani Tracking Club (PJRTC), di Lombok Tengah. Di malam terakhir itu pun kita habiskan untuk flashback perjalanan di Rinjani sampai belajar membuat rokok tradisional Lombok.
Membuat rokok tradisional Lombok (PERHATIAN: ROKOK MEMBUNUHMU)

Meski agak kesiangan, Senin pagi yang super cerah itu kita meninggalkan basecamp dengan berat hati. Di tengah perjalanan, mobil yang kami tumpangi berhenti sejenak di tempat makan yang menjual Nasi Balap Puyung.

Makanan khas orang Sasak ini sudah membuat kita penasaran sejak pertama kali datang ke Lombok. Kebetulan kita berhenti di rumah makan Inaq Esun. Cukup mengeluarkan kocek Rp12.000 kita sudah dapat sebungkus besar nasi balap puyung ini untuk sarapan nanti di pantai. 



Tanjung Aan

Wilayah pantai selatan Lombok, yang berbatasan dengan Samudra Hindia, ini selalu jadi rekomendasi wisata yang wajib didatangi. Dari Tanjung Aan sampai Pantai Kuta yang berjarak setengah jam dari Bandara bisa diakses dengan taksi atau mobil sewaan. Sebelum pamit sore itu, kita turun di Pantai Tanjung Aan dulu.

Pantai Tanjung Aan Lombok

Pantai ini luas banget ternyata. Di sana ada beberapa spot pemandangan bagus, seperti Bukit Merese dan Batu Payung. Sebelumnya, kita sarapan nasi balap puyung tadi plus buah semangka yang dibeli di tengah jalan. Pedes, manis, asin, seger, semua rasa jadi satu setelah perut kenyang dan melihat birunya pantai.

Bersama nenek penjaga pantai
Setelah sarapan, kita harus jalan kaki untuk bisa melihat Batu Payung dan naik ke Bukit Merese. Jalanan di pinggir pantai yang berbatu tajam dan sebagian terendam air pantai harus membuat kita hati-hati, apalagi dengan kaki yang belum sembuh setelah turun gunung. Kalau soal panas matahari yang menyengat siang itu, kita sepertinya udah pasrah.
Colek nakal babi laut
(Model: saya sendiri)

Tanjung Aan Lombok 2016
Taraaa.. Inilah Batu Payung!
Batu Payung ini punya bentuk yang unik. Dari satu sisi kelihatan seperti payung, sisi lain kelihatan seperti wajah Buddha. Batu karang yang lehernya terkikis ombak ini sudah cukup lama dikenal, bahkan pernah jadi lokasi iklan satu merk r*kok internasional.

Tanjung Aan Lombok

Nah, dari situ kita mulai jalan menanjak menuju Bukit Merese. Kali ini benar-benar wow! karena kita bisa lihat hamparan pantai dengan warnanya yang menakjubkan juga ombak besarnya dari ketinggian. Semua pun berebut ambil foto, dan di bawah ini menurut saya hasil foto terbaik kita di sana.
Tanjung Aan Lombok


Pantai Kuta

Pantai ini jaraknya agak jauh dari Tanjung Aan. Masih sama dengan pantai tetangganya, pantai Kuta punya ombak dan warna laut yang sama bagusnya. Tapi pantai ini sudah terlalu dipenuhi turis, terutama turis asing. Banyak yang datang untuk berfoto, berjemur, juga bermain beberapa water sport yang ditawarkan di sana.

Karena ramainya turis, pedagangnya pun banyak. Banyak masyarakat lokal, terutama ibu-ibu dan anak-anak, yang berjualan kaos, sarung dan kain tenun khas Sasak, gelang-gelangan. Pedagang makanan seperti bakso dan semacam cilok juga ada di sana.

Sampai sore kita menghabiskan waktu untuk menikmati detik-detik terakhir di Lombok. Memandangi pantainya yang indah itu seperti mimpi di tengah hari bolong. Beruntung banget menurut saya masyarakat lokal yang setiap hari bisa lihat ke pantai ini, damai, tenang, bersama kamu dan dia ;D





Comments

  1. Itu tulisan Malaka dibuat tahun 2016 yang lalu oleh kami tim KKN Universitas Sebelas Maret (UNS)-Surakarta, Bang.
    Huruf A dulu jatuh kena angin karena masang-nya kurng kenceng.
    Jadi kangen sama Lombok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantap! Sekarang jadi tenar buat spot foto ya :) Terima kasih infonya :) Samaaa.. Nggak pernah bosen ya main ke Lombok...

      Delete

Post a Comment