Menyentuh Atap Sulawesi: Puncak Rantemario Gunung Latimojong

Sebagai pendaki gunung pemula, mendaki gunung di luar Pulau Jawa belum terlalu jadi prioritas. Namun, suatu hari saya dapat ajakan serius untuk pergi ke Gunung Kerinci di Sumatera. Meski akhirnya gagal karena alasan kondisi alam, pengalihan tujuan ke gunung dengan puncak tertinggi di Pulau Sulawesi, Gunung Latimojong, membuat saya terbakar semangat untuk mendaki ke luar Jawa. Yeaaaah!


Berdasarkan kategori pulau, Gunung Latimojong yang terletak di Sulawesi Selatan ini masuk sebagai gunung tertinggi di Indonesia, dengan puncaknya (Rante Mario) yang berada pada ketinggian 3.478 mdpl. Bahkan, gunung yang tidak lagi aktif ini dikategorikan sebagai salah satu dari "The Seven Summits of Indonesia".

Setelah akhirnya dipastikan 7 orang bergabung, kami pun berangkat ke Sulawesi Selatan dari Jakarta, Ibukota tercinta. Ada abang Rahel (yang jadi TS karena sebelumnya pernah ke sana), mba Neva, dan bang Ridwan yang udah beberapa kali jalan bareng saya, tiga orang lainnya mba Tari, bang Guntur, dan Siswantoro (panggilan berdasarkan usia ).


***

Selasa, 3 Mei 2016

Sekitar pukul 04.00 WITA, tim kami sudah lengkap berkumpul di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Dari sana, kita pergi menggunakan taksi (mobil sewaan) menuju Terminal Daya. Kami menggunkan dua buah taksi yang masing-masing jasanya dibayar Rp100.000. Dalam waktu kurang lebih 15 menit, kami sampai untuk menjemput mobil panther yang akan mengantar kita ke Desa Baraka, dengan ongkos Rp100.000 per orang (jangan salah baca ya, kali ini bayar per orang ).

Sesuai harga, perjalanan dari Makassar menuju Baraka memang panjang, sekitar 7-8 jam menyusuri sisi barat Sulawesi Selatan. Selama perjalanan, kita disuguhi pemandangan kota, pantai, kampung nelayan, dan bukit-bukit yang menjadi tempat mengumpat matahari sebelum akhirnya bangun pagi itu.

Ketika matahari mulai terik dan memanasi mobil, kami terbangun perlahan. Lama kelamaan perjalanan menjadi membosankan dan kita sempat dibuat repot ketika harus turun di kabupaten Sidrap untuk berganti mobil lain karena supir tidak tahu jalan.... Damn what??? Seriously, he was!!! Setelah supir lama mengoper kami dengan sopir lain, kami mulai melanjutkan perjalanan.



Memasuki Kabupaten Enrekang, pemandangan mulai terlihat lebih menarik dengan tebing-tebing dan bukit-bukit hijau yang indah. Jalan pun mulai berkelok dan naik turun. Sampai sekitar pukul 11.23 siang kami tiba di Desa Baraka dan langsung menuju basecamp KPA Lembayung. Basecamp ini juga merupakan rumah keluarga Pak Dadang yang dulunya juga pendaki dan kini peduli dengan para pendaki muda yang tertarik untuk mendatangi Gunung Latimojong.


Rumah yang sekaligus menjadi tempat sekretariat KPA Lembayung ini dijadikan kelompok kami dan pendaki lain untuk menginap sebelum berangkat dan setelah turun dari gunung. Ada ruang lebih di lantai dua dan balai untuk istirahat dan satu kamar mandi untuk mandi dan cuci. 

KPA Lembayung (Foto: Guntur)

Keluarga dan warga sekitar biasanya akan membuat suguhan, seperti kopi khas Toraja dan teh beserta kue-kue basah, untuk dinikmati tamu secara cuma-cuma. Bahkan untuk menginap tidak ada biaya yang dikenakan. Namun, jika ada keinginan untuk memberi uang terima kasih, tamu bisa menaruhnya di kotak sumbangan yang tersedia.


Prosedur yang dibutuhkan untuk mengunjungi Gunung Latimojong selain melapor di KPA Lembayung juga harus melapor ke polsek Baraka, Namun pada saat itu rombongan kami tidak melapor karena ada sedikit miskomunikasi.

Hari itu, kita tidak langsung mendaki, melainkan istirahat semalam di basecamp. Untuk menghabiskan sisa hari itu, kami makan siang di warung yang menjual coto makassar. Kemudian  berbelanja logistik dan kebutuhan mendaki lainnya di sebuah toko kecil yang ternyata serba ada--dari jas hujan 10ribuan sampai mesin cuci ada di sana (seriously... agaiiiin).

***

Rabu, 4 Mei 2016

Tidak terlalu pagi sekali kami bangun setelah membereskan  semua senjata tempur untuk mendaki Gunung Latimojong. Sekitar pukul 08.50 WITA, Jeep yang sudah dipesan sebelumnya siap membawa kami meninggalkan KPA menuju Desa Karangan, yang menjadi titik awal pendakian.

Not Full Team :( (Kang Foto: Guntur)

Bapak supir jeep - biasa mengantar pendaki sejak tahun 80an
Biaya yang dibutuhkan untuk menyewa Jeep Baraka - Karangan pulang pergi alias PP adalah Rp1.800.000. Biaya ini sebenarnya masih bisa ditekan dengan menumpang truk pasar tujuan Dusun Karangan yang terdapat di pasar, namun hanya tersedia di hari Senin dan Kamis. Fyi, jangan naik tujuan Rantelemo karena harus berjalan sejauh 2 km lagi ke Desa Karangan.

Menuju Desa Karangan, kami juga sudah ditemani oleh porter yang akan membantu pendakian. Dia adalah seorang anak muda asli Baraka, panggilannya Acing. Untuk jasanya (yang sebenarnya tidak wajib diikutsertakan dalam pendakian) kami memberinya 250 ribu Rupiah per hari atau 750 ribu untuk 3 hari 2 malam.

Perjalanan menuju Dusun Karangan dapat ditempuh sekitar 2,5 - 4 jam perjalanan tergantung kondisi cuaca dengan jarak kurang lebih 27 KM. Perjalanan dengan jeep dalam cuaca yang mendukung waktu itu lumayan menantang karena beberapa jalanan yang belum disemen atau beraspal. Di beberapa titik bahkan kita bisa merasakan sensasi offroad.

Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti untuk jajan di warung dan berfoto karena spot yang cukup memukau kami di Buntu Batu, Buntu Mondong. Pemandangan di sini sangat elok, sehingga beberapa dari kami termasuk saya apalagi Ridwan, lebih tertarik untuk berfoto-foto daripada sarapan.



Pada pukul 10.38 WITA, rombongan kami tiba. Rahel bersama Acing mengurus Simaksi ke pos yang berada di lapangan, biaya simaksi per orang adalah Rp10.000. Menurut Rahel, ketika dia pertama kali mengunjungi gunung kebanggaan masyarakat Sulawesi ini November 2015 lalu, belum ada pembayaran simaksi. Mungkin karena sudah banyak pendaki yang datang, bahkan dari luar Sulawesi, kebijakan ini lalu dibuat.





Setelah melapor ke rumah bapak Kepala Dusun Karangan yang juga menjadi basecamp pendaki, kami dipersilakan mampir ke rumah warga yang ditunjukkan Acing untuk makan siang. Rumah keluarga yang kami datangi sama seperti rumah-rumah lainnya yang berbentuk rumah panggung. 



Menjemur kopi

Dengan ramah dan terbuka mereka menyambut kami dan memberi sebagian besar ruang untuk kami makan siang sejenak. Setelah makan siang, saya sempatkan bermain dengan anak pemilik rumah, porter kami Acing bahkan sempat tidur siang sejenak.

Basecamp - Pos 1 (Buntu Kaciling)
Meski agak malas memulai pendakian setelah makan siang dengan nasi bungkus porsi kuli (anyway, porsi makan standar di daerah itu memang wow banget!), kami pun mulai melanjutkan perjalanan yang agaknya cukup panjang. Belum mulai masuk kawasan pegunungan, kami harus melalui jalanan menanjak di antara perbukitan dan perkebunan warga.




Sekitar pukul 12.30 kami melanjutkan perjalanan dengan target sampai di Pos 2 yang harus melalui Pos 1. Pos satu merupakan tanah datar yang sempit dan ditandai oleh plang di sebuah pohon kayu. Pos ini berada di ketinggian 1774 mdpl yang juga sering pos Buntu Kaciling. Sebelumnya kita melalui pinggir perbukitan yang diisi tanaman rendah milik warga dan beberapa aliran sungai kecil.

Namaster (Pos 1)

Pos 1 - Pos 2 (Goa Sarung Pakpak)
Setelah kami semua sampai di Pos 1 pukul satu lebih, sekitar 10 menit lanjut berjalan kita mulai memasuki kawasan hutan. Jalur yang harus dilalui pendaki pun semakin sempit karena pohon yang rapat. Yang sedikit melegakan, jalur ini lebih banyak turunan daripada tanjakan. Namun, jalur ini cukup berbahaya karena melalui miringan tebing, bahkan beberapa titik berbatasan dengan jurang.

!!!JALUR BERBAHAYA!!!
Beberapa puluh meter menuju Pos 2, kami menemui jembatan kayu untuk pendaki menyebrang dari jalur yang terputus di pinggir tebing. Meski hanya beberapa meter, siapa pun yang lewat harus berhati-hati karena lebar jembatan yang sempit dan pegangan yang hanya seutas tambang kuat.

Tidak lama setelah itu, kami menemui tantangan berikutnya. Ada satu jalan menurun yang harus melalui batu licin. Meski hanya dua meter tingginya dan disediakan temali untuk pegangan, kehati-hatian pendaki dan kerjasama dengan partner pendaki dibutuhkan di sini. 

Bukan hanya saya dan dua teman wanita saya, yang laki-laki pun agak ngeri ketika sampai di titik tersebut. Berpuluh-puluh menit kita habiskan untuk perlahan menapaki kaki satu per satu di batu licin yang nyaris 90 derajat. Tapi kita nggak lupa juga untuk mengabadikan momen *teteupnarsis.





Setelah dengan penuh suka cita melalui tantangan itu, kami mulai mendengar deru aliran sungai. Itu artinya pos dua yang dinantikan sebentar lagi. Dan benar saja, tak lama kami mulai melihat flysheet menggantung di atas sepetak tanah dekat jembatan sungai. Beberapa pendaki yang hendak turun sedang bristirahat di sana rupanya. 


Kami pun menyapa mereka ketika harus kembali melalui tantangan selanjutnya, walaupun tidak semengerikan yang sudah-sudah. Ada jembatan kecil di atas sungai yang derasnya saat itu membuat adrenalin keluar. Setelah itu, kita harus sedikit berjalan merayap di tanah bebatuan licin dengan bantuan tali temali. Setelah melalui itu, ada dua jalan di sebelah kanan, yaitu gua di depan dan jalan menanjak menuju Pos 3.



Goa di Pos 2
Pos berupa gua terbuka ini memang jadi target kita untuk menghabiskan malam pertama di Gunung Latimojong. Tanpa harus memasang tenda, cukup gelar matras atau flysheet, kita bisa masak-masak dan tidur di sana. Untungnya kita di sana, kita bisa ambil air dari sungai deras untuk minum dan cuci--tapi tetep harus jaga kebersihan dan kelestarian alam juga ya!



Informasi tambahan lainnya tentang goa ini, lebarnya tidak terlalu panjang. Pengalaman kami waktu itu, ketika kami berbaring di sana, kaki kita nyaris menyentuh pinggiran goa. Artinya? Artinya cukup bahaya juga, karena di bawah goa itu ada jeram yang alirannya dereeees dan besaaaaar banget. Lihat fotonya deh...

Ada pengalaman yang bisa dijadiin catatan juga nih. Waktu itu kita kebetulan sampai di Pos 2 di antara waktu ashar dan maghrib. Kita bisa langsung kuasain goa karena waktu itu kosong. Tapi menjelang malam ada rombongan satu agen travel gunung besar yang datang.

Karena jumlah mereka belasan atau puluhan ya... mungkin setengah mereka masuk ke goa bersama kita dan sisanya istirahat di tenda di lahan yang terbatas. Jadi untuk kalian yang berniat bermalam di goa Pos 2 saat musim ramai pendakian, pastikan kalian jadi yang pertama kalau mau kebagian lapak!



Kamis, 5 Mei 2016


Jam enam pagi saya terbangung ketika pemandangan di hadapan mulai terang dan suara jeram sungai yang mencekam menyudahi waktu tidur saya dan teman-teman lainnya. Dengan ruang gerak yang sempit, saya membuat sarapan seadanya bersama Mba Neva sebelum kembali melanjutkan perjalanan. 

Rencana hari itu, kita akan langsung menuju Pos 7, yang hanya dua jam dari puncak. Di Pos 5 nanti, yang juga menjadi spot berkemah, kami akan istirahat cukup lama untuk makan dan mengambil air. Mengingat perjalanan akan lebih panjang dari hari kemarin, kita langsung bergerak setelah jam 8 pagi. 

Pos 2 - Pos 3 (Lantang Nase)
Perjalanan menuju Pos 3 dari Pos 2 jadi tantangan yang cukup berat untuk kami. Tanpa diberi pemanasan terlebih dulu, kita langsung dihadapkan dengan jalur menanjak yang rata-rata kemiringannya 80 derajat--menurut saya. Masih ditemani hutan rapat, kita nyaris memanjat dan merayap daripada berjalan sepanjang jalur itu. Meskipun hanya berjarak 600 meter dan membutuhkan waktu 30 - 45 menit perjalanan, jalur itu benar-benar sadiiiiiist!


*foto diambil saat turun

Pos 3 - Pos 4 (Buntu Lebu)
Setelah sampai di jalur 3 jam 8.49, lutut kita pun lagaaaa... Jalur menuju Pos 4 terbilang cukup landai dan tidak terjal. Hutan masih sangat rapat dan basah, banyak pohon tumbang dan akar-akaran yang licin kalau diinjak. Saat itu kami hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit, itu pun dipotong waktu istirahat dan mengobrol dengan pendaki lain yang baru turun. 



Pos 4 - Pos 5 (Soloh Tama)
Pos 4, yang kita sambangi pada pukul setengah sepuluh pagi, kurang terlalu terlihat penampakannya, karena hanya ditandai plat yang dipatri di sebuah pohon di tanah yang agak terbuka. Perjalanan dari pos empat menuju Pos 5 pun agak sedikit menoton, karena hampir sama modelnya dengan jalur yang dilalui sebelumnya. Tapi kali ini cukup jauh, karena membutuhkan waktu sekitar 90 - 120 menit.

Lagi-lagi kita bertemu teman pendaki yang turun. Waktu itu kami bertemu beberapa pendaki dari Negeri Jiran. Sambil istirahat dan berbagi cerita dengan mereka, beberapa dari kami juga kepo dengan buah Kalpataru. Menurut porter kami, pegunungan Latimojong memang banyak terdapat pohon Kalpataru yang punya banyak mitos.

Setelah sampai di Pos 5, pendaki akan menemukan lahan terbuka yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Beberapa pohon besar yang tumbang juga tersedia untuk tempat duduk. Dan sekitar 15 menit jalan kaki ada sumber mata air, yang membuat pos ini makin nyaman digunakan pendaki. Tapi mengingat tempat peristirahatan yang ingin kita tuju adalah Pos 7, cukuplah Pos 5 jadi tempat makan siang.

Pos 5 - Pos 6
Jalur ini mulai lebih menanjak daripada jalur menuju pos-pos sebelumnya. Hutan pun mulai diisi pepohonan ramping daripada pohon-pohon berbatang besar. Setelah berjalan sekitar 40 menit, kami tiba di Pos 6 yang merupakan tanah terbuka sempit yang cukup terbuka. Di sana, pendaki bisa menemukan informasi mengenai fauna yang bisa ditemui.

Di sini kami juga cukup lama beristirahat, beribadah, dan mengobrol dengan pendaki asal Makassar. Bersama mereka, kita melanjutkan perjalanan perlahan-lahan menuju Pos 7.



Pos 6 - Pos 7 (Kolong Buntu)
Perjalanan menuju Pos 7 masih sama melelahkannya dengan yang sebelumnya dan lebih panjaaaang. Namun, hutan lumut yang unik membuat perjalanan sedikit menyegarkan. Eiits, tapi tetap berhati-hati dengan tanah yang licin karena diselimuti lumut. Jalur ini juga cukup jauh, karena kita harus naik turun beberapa bukit, yang lama kelamaan dipenuhi pepohonan pendek.




Setelah berjalan satu setengah jam dari Pos 6, tibalah kami di Pos 7. Pos 7 adalah tempat kemah yang pas karena di sana terhampar tanah terbuka yang dikelilingi tanaman rendah yang mendominasi dan berada di kaki perbukitan menuju puncak Rante Mario dan jalur ke Puncak Nenemori.


Burung Tledekan

!!!BANYAK SAMPAH!!!
Satu hal yang disayangkan dari lokasi ini, yaitu sampah. Sayang sekali, pemandangan dan lokasi yang seharusnya menjadi tempat peristirahatan yang nyaman menjadi tempat sampah. Sepertinya memang belum banyak pendaki yang sadar pentingnya membuang sampah di tempatnya dan membawa kembali sampah ketika turun. Tapi mudah-mudahan pendaki sekarang mau lebih memperhatikan kebersihan dan menghargai keindahan alam.


Meski kita sampai jam empat sore, lama kelamaan cuaca mulai dingin dan gerimis ketika kami perlahan mendirikan tenda. Ketika malam tiba, kami pun masak-masak, makan, dan menghabiskan sepertiga malam di satu tenda sebelum berpencar ke tiga tenda yang sudah dibangun untuk beristirahat.

***

Credit to my partner Neva --> http://www.surbaktineva.com/2016/07/pendakian-gunung-latimojong-sulawesi.html


Jumat, 6 Mei 2016

Pos 7 - Pos 8 (Lapangan) - Puncak Rante Mario
Sekitar sebelum subuh kita satu per satu bangun seperti yang dijanjikan. Setelah membuat sarapan dan makan, menyiapkan pakaian, logistik, dan peralatan tempur menuju puncak lainnya, kita pun mulai meninggalkan tenda.

Trek awal yang kami lalui cukup mampu membuat mata yang masih ngantuk-ngantuk ayam, terbuka 100%. Trek yang kami lalui full menanjak dan terjal, dengan jalur yang cukup membuat bingung pada awalnya.

Setelah Berjalan sekitar 15 - 20 menit kita akan bertemu dengan jalur bercabang yang ditandai dengan menara telekomunikasi. Dari sini, kita dapat menyaksikan sang mentari pagi yang merangkak naik untuk memberikan cahaya bagi bumi yang gelap.

Untuk menuju puncak tertinggi pegunungan Latimojong, Puncak Rante Mario kita harus memilih jalur ke kiri dan berjalan menurun. Jika kita mengambil jalur kanan dan melipir, jalur tersebut akan menuntun kita ke Puncak tertinggi kedua, Puncak Nenemori.

Tidak lama menikmati sang fajar yang pelan-pelan merangkak naik, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari menara telekomunikasi, terdapat tempat asik untuk menikmati matahari pagi yang dikelilingi oleh lautan awan. Tim kami minus Guntur yang nyaris selalu di depan, betah berlama-lama di tempat ini.


Puas mengambil beberapa foto, kami bergegas berjalan naik menuju puncak. Dari kejauhan terdengar suara hingar bingar para pendaki yang telah berada di puncak Rante Mario. Akhirnya, setelah 15 menit berjalan melalui trek yang cukup landai, pada pukul 06.30 pagi kita sampai di puncak tertinggi pegunungan Latimojong, Puncak Rante Mario yang berdiri gagah di ketinggian 3.478 mdpl!!!


Bersama pendaki dari Negeri Jiran Malaysia
Kawasan puncak ditandai dengan berdirinya sebuah tugu triangulasi setinggi 1,5 M. Dari puncak pemandangan dan lautan awan terlihat sangat menawan. Kami cukup beruntung saat itu karena cuaca sangat cerah.

 

***

Nggak disangka-sangka, newbie ini bisa menginjakkan kaki di Puncak Sulawesi. Semua tidak lain karena teman-teman yang hebat dan pastinya bantuan dari Allah swt. Perjalanan di tanah orang yang benar-benar asing ini cukup berisiko, tapi dengan kerja sama dan rasa percaya semua bisa terwujud =)

--------------------------------------

Rangkuman Perjalanan

--Selasa, 2 Mei 2016
Perjalanan dari Jakarta - Makassar

--Rabu, 3 Mei 2016
04.00 - 04.15 Bandara - Terminal Daya (15 Menit)
04.30 - 11. 23 Tiba di Baraka ( 7 - 8 jam)

Melengkapi Logistik + Perizinan +Istirahat

--Kamis, 4 Mei 2016
08.05 Menuju dusun Karangan
09.12 Istirahat di Buntu Mondong
11.30 Tiba di dusun Karangan Kec Buntu Batu
Istirahat dan Ishoma di FDR

14.20 - 15.04 tiba di Pos 1
16.22 tiba di Pos 2
Istirahat

--Jumat, 5 Mei 2016
08.00 - 08.45 Pos 2 - Pos 3
08.55 - 09.35 Pos 3 - Pos 4
10.00 - 11.17 Pos 4 - Pos 5 (skip ngobrol 17 menit)
13.00 - 13.40 Pos 5 - Pos 6
14.15 - 15.45 Pos 6 - Pos 7

--Sabtu, 6 Mei 2016
05.40 - 06.30 Pos 7 - Pos 8 - Rante Mario
08.10 Turun menuju camp (Pos 7)
09.16 - 10.00 Packing + Masak + Sarapan
11.00 Memulai perjalanan turun
12.55 Tiba di Pos 5 ISHOMA
13.37 Tiba di pos 2
15.25 Tiba di Dusun Karangan


Biaya perjalanan
Transport carter mobil Baraka - Bulukumba - Makassar Rp2300.000
Baraka - Toraja PP (trip setelah turun gunung): Rp700.000
Porter 3 hari 2 malam: Rp750.000
Simaksi per orang: Rp10.000
Jeep Baraka - Karangan PP: Rp1.800.000
=> alternatif transport dari pasar dengan bak sayur (turun di Jalur Angin2): Rp30-40 ribu per orang

*Seluruh perincian harga update per Mei 2016

Perjalanan selanjutnya setelah Latimojong:
- Perjalanan Panjang di Tana Toraja
- Mantai Setelah Turun Gunung di Bulukumba

Comments

  1. Nice sharing Kak,
    Btw, 7 hari ya kalau dari Jakarta ?
    Budget 2.500.000 cukupkah ?

    Terima kasih

    Salam
    Agustinus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cukup aja, bahkan bisa termasuk tiket pesawat Jakarta-Makassar pp. Yang penting bawa banyak temen aja biar makin murah sharing sewa mobilnya (klo motoran nggak tau ya). Sama-sama Agustinus :)

      Delete

Post a Comment