Mantai Setelah Turun Gunung di Bulukumba (Pantai Bira - Bara - Pantai Apparalang)

Ini adalah perjalanan paling lengkap yang pernah saya lakukan, per Mei 2016. Setelah turun dari Gunung Latimojong, ziarah ke makam tua di Toraja, kaki saya sampai di Bulukumba! 

Kabupaten di ujung tenggara Selawesi Selatan ini memang sudah diburu pelancong millenial karena keindahan pantainya. Meskipun jaraknya jauh, baik dari Makassar atau Tana Toraja, nggak akan rugi luangin waktu ke sana.

Sebelumnya mungkin saya harus ucapkan terima kasih buat kakak suhu pergunungan, Mba Neva, yang sudah memberi ide supaya kami ke Bulukumba! (mulai sekarang setelah kata Bulukumba harus kasih tanda serrruu!!!) Setidaknya dua sehari semalam kita habiskan waktu di sana untuk main di Pantai Bira dan saudaranya Bara.


Perjalanan panjang ke Bulukumba

Untuk bisa sampai ke sana, perjalanan tidaklah mudah. Hampir sepuluh jam harus ditempuh dari Kecamatan Baraka, Enrekang. Tujuh orang plus dua supir membuat perjalanan tengah malam kami semakin melelahkan karena harus berdesak-desakkan. Bengong, ganti posisi, tidur, bangun dan bengong lagi, cuma itu yang bisa kita lakukan sementara dua supir di kursi depan mengemudi dengan mengikuti petunjuk Google Map.

Mulai pukul setengah enam saya mulai merasa tidak mengantuk lagi. Lalu mobil sempat berhenti di seberang pom bensin yang masih tutup. Hampir sejam lebih mobil terparkir di dekat pertokoan yang di sampingnya ada sawah masyarakat. 

Kebetulan di pinggir sawah ada saung kecil, jadilah saya dan dua teman saya lainnya pindah ke sana untuk peregangan sejenak, melihat induk sapi dan anaknya makan, meghidup udara pagi yang bersih, beli kue untuk sarapan kecil, gegoleran.


Setibanya di Tanjung Bira

Sampai akhirnya pom bensin dibuka, saya sudah tidak lagi berselera tidur dan menghabiskan panada yang saya beli di toko dekat saung. Mobil pun kembali melaju membawa kami yang masih jet lag dan belum mandi. Sekitar pukul sembilan kami akhirnya kami sampai di pantai wisata tujuan kita, Pantai Bira!!! Yey!



Sayangnya, saat itu saya nggak sesemangat itu karena belum mandi (padahal di gunung tahan nggak mandi berhari-hari), kepanasan, badan pegal, dan gerah melihat pantai yang terlalu ramai karena waktu itu hari minggu. 

Kita pun mengisi perut yang lama kosong di satu warung mi yang berjajar di pinggir pantai. Setelah itu kita mencari tempat penginapan yang murah meriah untuk semalam. Kita dapat dua kamar murah di "House for Rent" (harganya?? Catatan saya hilang! Pokoknya murah kalau lagi beruntung XD). 


hostel di pantai bira

Kamar menginap masih terbilang baru, fasilitas oke, ada TV, AC, closet duduk dan shower. Yang punya ibu-ibu baik hati, punya anak gadis yang bisa masak nasi goreng enak di kedainya.

Setelah mau beristirahat kita lalu dapat sedikit kendala. Supir agak miskomunikasi dengan kami, yang mengira mereka sudah tahu kalau kita menyewa mobil dari Baraka - Bulukumba - Makassar. Sang supir yang sudah dibayar Rp2,3 juta pun minta tambahan. Setelah kita sendiri berunding, kami pun mengeluarkan sedikit uang damai.


Pilih Pantai Bara untuk habiskan senja



Setelah istirahat sepanjang siang, sore hari kami keluar penginapan untuk menikmati senja di pantai. Fyi, Pantai Bira dan Bara memang menjadi spot untuk berburu sunset atau matahari terbenam yang pas. Tapi, karena Pantai Bira masih ramai untuk kami, tetangganya--Pantai Bara--lebih membuat kami penasaran. Bara bara bara, bere bere bere~

pantai bira

pantai bira dan sampah
Masalah yang menodai keindahan Pantai Bira
pantai bira
Pantai Bira di pagi hari
Menurut warga, kalau mau ke Bara dari Bira bisa jalan kaki sekira setengah jam. Bisa aja sih jalan, apalagi kalau ramai-ramai liburan sama teman. Tapi, kalau kasusnya 'kesorean' kayak kita, pasti males banget. Kita pun minta tolong supir untuk mengantarkan kita ke Pantai Bara. Tidak sampai 15 menit, kita pun sudah sampai. 

Pantai Bara memang ternyata lebih sepi. Di sana, turis asing lebih banyak tinggal, terbukti dengan sejumlah cottage dan kafe yang lebih menginternasional. Tapi, waktu kita ke sana, nggak keliatan bule-bule ini berkeliaran sih--nggak kayak di Bali atau Lombok. 

Kami turun dan masuk ke pantai melalui jalan sempit di antara perkampungan nelayan tua. Jalan sedikit, tiba-tiba pemandangan pantai cantik dengan pasir putih dan pohon kelapa menghiasi sejauh mata kami memandang. Pasir putih di sana pun unik daripada yang di Pantai Bira. Nanti rasain sendiri ya, hehe.

Satu teman kami, Mba Tari pun langsung memasang hammock yang nggak sempat dipasang di gunung. Setelah jadi, kami pun berebut naik ke hammock untuk apalagi kalau bukan foto-foto (bukan buat tidur sebagaimana mestinya).

santai pantai bara

Segala macam pose udah dicoba dan langsung kami posting di media sosial masing-masing buat bikin iri teman-teman di Jakarta, muahahaha. Kita juga nggak ada matinya foto-foto di atas pasir dan bibir pantai yang mulai surut sore menjelang malam itu. 

Soal matahari terbenam, sayang kami nggak berhasil dapetin golden sunset-nya, karena langit sedang berawan. Tapi, itu nggak melunturkan semangat kami untuk berelaksasi, jauh dari Ibukota. Kami pun betah tinggal di sana sampai hampir jam tujuh malam.

pantai bara

Nggak nyesal kami tadi naik mobil dari penginapan ke Pantai Bara. Ternyata oh ternyata, kalau malam jalanannya gelap dan banyak rumah-rumah tua di perkampungan yang reot dan kosong. Hiiii...


Akhirnya ketemu seafood buat makan malam!

Setelah sekian lama cuma makan daging dan ayam sebesar "bogem mentah", akhirnya kami bisa mencicipi sajian kuliner yang berbeda di Sulawesi Selatan. Yang namanya daerah pantai, so pasti khasnya seafood atau makanan laut. Ada cukup banyak pilihan ikan yang ditawarkan, walaupun tidak terlalu segar. Mungkin tergantung tempat makannya kali ya. Tapi, waktu itu kita cukup puas lah.

Habis makan malam besar dan nonton bola sebentar, kami pun kembali ke penginapan dan tidur lebih cepat. Pagi keesokan harinya kita mau ke pantai lain, sebelum akhirnya bergegas menuju Makassar yang jaraknya 10 jam dan mengejar pesawat malam.


Say goodbye di Pantai Apparalang

Kunjungan kami di Bulukumba klimaksnya di pantai ini. Atas rekomendasi teman saya, yang dapat info dari media sosial, kita ke pantai ini--setelah berkemas. Walaupun agak kesiangan pergi dari penginapan, tapi panas matahari yang menyiksa itu terbayarkan dengan pemandangan laut yang super duper bagus! 

Pantai ini sebenarnya segaris dengan Tanjung Bira, tapi untuk ke sana melalui jalur darat, kami harus berkendara dua puluh menit. Daerahnya cukup menantang karena jalanannya belum mulus dan cukup terpencil.

Aksesnya seperti ini
Untungnya kita ke sana Hari Senin, jadi nggak terlalu ramai seperti menurut beberapa penjaga warung di objek wisata Pantai Apparalang. Jadi, begitu kami sampai, kami jadi satu-satunya rombongan di sana. Wohoooo!! Satu lokasi wisata itu pun bisa kita jelajahi tanpa gangguan.

pantai apparalang

Pantai Apparalang ini berbeda dengan Pantai Bira atau Bara. Daerahnya ada di atas tebing karang dan pantainya lebih biru (hijau kebiruan malahan). Ditambah dengan hujan sinar matahari sepenggalah naik saat itu, warnanya pun makin cantik dengan kilauan pantulan cahaya seperti kristal.

Subhanallahnya pantai ini saya akui jadi pemandangan laut terindah yang pernah saya liat (per Mei 2016 :v Agustus besoknya saya pergi ke Buton yang punya lebih banyak pantai secantik Apparalang di Bulukumba ini).

pantai apparalang

pantai apparalang

pantai apparalang

Pantai yang sering jadi spot favorit untuk menyelam ini bukan cuma dinikmati dari atas tebing aja. Ada tangga-tangga kayu dan dermaga yang bisa membawa kami lebih dekat dengan air serta karang pantai yang cantik. Meski jarak dari atas tebing ke dasarnya nggak jauh, tapi waktu itu rasanya seabad--soalnya kebanyakan sesi foto-fotonya, muahahahaa.

Nggak terasa, kami menghabiskan waktu di sana sampai dua jam! Panasnya matahari di siang bolong pun yang akhirnya jadi alarm buat kami kembali ke mobil dan sadar kalau kami kebablasan dari rencana untuk melanjutkan perjalanan panjang ke Makassar!

Comments