Perjalanan Panjang Menuju Objek Wisata Tana Toraja

Pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Selatan, membuat saya sangat antusias. Setelah melihat punggungan bumi Sulawesi Selatan yang luar biasa sepanjang perjalanan menuju Puncak Rantemario, saya berkesempatan untuk melihat sisi budaya dan bentuk keindahan alam lainnya yang ditawarkan "negeri para daeng" tersebut.



Hari kelima trip gunung (7 Mei 2016) saya bersama tujuh orang kawan, kita sudah merencanakan untuk melihat situs makam Toraja yang terkenal itu. Dari basecamp pendaki di Baraka, Toraja dapat ditempuh sekira tiga jam dengan mobil. Mobil yang mengantar kami pulang pergi Baraka-Toraja disewa dengan harga Rp700.000.

Setelah membawa barang seperlunya (karena kami masih akan kembali ke basecamp), kami berangkat sekitar pukul setengah delapan pagi. Sabtu pagi yang begitu cerah benar-benar membuat saya semangat, apalagi setelah melihat hijaunya kaki gunung dan tebing-tebing indah yang terhampar luas di tanah Kabupaten Enrekang.

Pemandangan Tebing Enrekang Sulawesi Selatan

SITUS GOA TONTONAN

Diperjalanan menuju Toraja, kami berhenti dulu di satu situs adat, namanya Goa Tontonan. Ketika kami turun di pinggir jalan, tanah berumput yang agak menurun mengantarkan kami ke pinggir sungai besar yang berwarna kecokelatan. Di seberang sungai tersebut siapa pun bisa langsung melihat tebing batu yang tingginya bisa mencapai 100 meter.

Tebing tersebut ternyata adalah pemakaman tua suku Toraja yang sudah ditinggalkan. Sebutan goa sepertinya untuk menyebut lubang yang dibuat untuk meletakkan peti-peti kayu. Dari seberang tebing tersebut, kita bisa melihat peti-peti tua, yang warnanya sudah nyaris sama dengan warna tebing yang keabu-abuan--mungkin ini maksudnya kenapa disebut goa tontonan.  

Situs Gua Tontonan Sulawesi Selatan

Sangat disayangkan situs ini tidak terurus. Papan nama tempat ini pun sudah berkarat dan lama tidak diperbarui. Pos penjagaan juga jelas terlihat telah lama tidak ditunggui manusia (kalau makhluk lain kurang tahu juga ya XD). Yang jelas, mampir ke situs Goa Tontonan bisa jadi pemanasan sebelum mendatangi situs-situs pemakaman yang jadi tempat wisata di Toraja.

Situs Goa Tontonan tidak terurus
Susunan peti-peti mati tua
Dari Situs Goa Tontonan kita mampir sejenak ke rumah makan di Pasar Cakke. Setelah sekian hari mendapat atau membeli makan di sini, saya mempelajari bahwa porsi makan orang di Sulawesi Selatan sangat buesaaaarrrr. Beberapa kali saya nggak kuat menghabiskan porsi nasi mereka, juga lauk daging seperti ayam yang bisa sekepalan tangan tukang pukul!

Nasu Cemba, menu andalan di Enrekang
TORAJA

Jam sepuluh kurang kami sampai di gerbang selamat datang Tana Toraja. Turun sebentar untuk berfoto-foto, ternyata perjalanan ke kota dan situs wisatanya masih harus melalui beratus-ratus hektar persawahan, jalanan menikung, dan rumah makan yang menjual bakso babi. Rencana kami adalah menyambangi tempat wisata yang paling jauh terlebih dulu di Toraja Utara.

Pintu gerbang Kabupaten Tana Toraja
Tedong Bonga Toraja
Tedong Bonga, sapi 1 Miliyar yang jadi ikon daerah Toraja
Kete Kesu

Di desa di Toraja Utara ini terdapat situs wisata terkenal yang bisa membawa kita melihat rumah adat unik Suku Toraja dengan pemakamannya. Hijaunya persawahan dan atap khas rumah Toraja menyambut kita ketika sampai di situs wisata yang sudah terkenal ini. Setelah membayar tiket masuk (lupa harganya) kita masuk untuk melihat deretan rumah adat khas Toraja yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di televisi :,)

Kang foto: temen saya Guntur
Peta situs wisata Kete Kesu
Kete Kesu Toraja

Lebih ke dalam lagi, pengunjung bisa melihat semacam rumah terakhir bagi keturunan bangsawan yang sudah tiada. Di luar rumah umumnya ada patung atau foto yang dibuat serupa dengan mereka yang sudah meninggal. Tak jauh dari situ, terdapat tebing gua pekuburan yang berisi peti mati, tumpukan tengkorak, dan benda-benda kesukaan mereka yang sudah meninggal,

Kete Kesu Toraja

Kete Kesu Toraja



Kete Kesu Toraja
Mereka yang dihormati, dari balik jeruji (foto: Mamas Siswantoro)

Nggak cuma bisa melihat sisa-sisa kubur batu atau peti tua dengan susunan tengkorak dan tulang berulang dari luar, wisatawan juga bisa masuk ke dalam gua untuk melihat yang lain. Cukup membayar Rp15.000-Rp20.000 untuk jasa pemandu dan penerangan, wisatawan bisa masuk ke dalam gua.

Masuk ke dalam gua memang agak bikin bulu kuduk merinding. Bau gua yang lembab, tengkorak tergeletak di tempat tak terduga, sampai stalaktit dan stalagmit yang rupa-rupa bentuknya bisa ditemui oleh pengunjung. Ceritanya lebih banyak di Londa, nanti....


Untuk informasi juga, di Kete Kesu ini juga banyak tempat menjual souvenir dan oleh-oleh khas Toraja dan Sulawesi Selatan.


Kompleks Makam Londa

Dari Kete Kesu, kami kembali melanjutkan perjalanan ke kompleks makam berikutnya di Desa Sandan Uai, sekitar setengah jam. Kata orang ke sana, kita belum ke Toraja kalau belum ke Londa! Okelah, mungkin karena pemakaman di sini lebih unik bentuknya dan punya banyak cerita.

Setelah membayar sekian rupiah untuk parkir (catatan saya hilang!!!), kami masuk ke komplek pemakaman yang sedikit terlihat berbeda dengan yang di Kete Kesu. Satu tebing bergua dimiliki keluarga bangsawan terdapat lubang-lubang yang diisi peti tua dan patung-patung manusia dari kayu. Gua tersebut sudah disepakati bersama keluarga dan pemerintah untuk dijadikan tempat wisata.


Makam Londa Toraja
Macam penonton di tribun VVIP
Masuk ke gua pemakaman di situs ini, kita juga dikenai biaya untuk pembantu yang membantu kita menjelaskan semua yang bisa dijelaskan di dalam gua (penulisnya lagi malas nulis XD). Gambaran umumnya, bisa dilihat di foto-foto di bawah ini. Atau kalau mau lebih jelas lagi datang aja langsung ke sana! :D
Jangan liat modelnya!
Rokok membunuhmu!
Dua tengkorak "Romeo dan Juliet"
Foto Keluarga

Nggak lama kita foto-foto bareng, hujan turun dan kita langsung lari ke mobil. Niat untuk menengok Patung Kristus Raja, yang serupa dengan patung ikon di Brasil, gagal karena hujan. Menurut pak supir, kita nggak bisa ke sana karena untuk lihat lebih jelas dan lebih dekat, mobil tidak bisa masuk dan pengunjung harus sedikit trekking

Mengingat kita juga sudah cukup lelah dan lapar karena belum makan siang--yang memang baiknya dirapel dengan makan malam--kita pun pulang. Tapi kita juga sempat mampir lagi ke rumah makan di Pasar Cakke untuk makan makanan enak lainnya yang belum dicoba dan mengisi bensin sebelum perjalanan jauh ke Bulukumba! Ditunggu yaa perjalanan selanjutnya...

Comments