Banjarmasin dan Kelas Inspirasi: SDN Sungai Lulut 2 untuk KI BJM 2

KALIMANTAN - pulau besar di tengah Indonesia ini sebelumnya selalu membuat saya penasaran. Sedikit hal yang saya tahu tentang Kalimantan adalah tarian dan musik Gantar, orangutan yang terancam, dan kebakaran hutan.

Beberapa tahun lalu saya punya mimpi backpacking keliling Kalimantan, tapi lewat begitu saja karena memang tidak memungkinkan. Belakangan juga dipaksa ikut mendaki Bukit Raya, tapi pupus karena belum siap uang dan waktunya. Di awal 2017, saya pun sampai tulis harapan supaya bisa ke Kalimantan tahun ini, dan ternyata saya berjodoh dengan Kelas Inspirasi Banjarmasin 2.

Tapi bisa dibilang ini random, karena saya tidak terpilih lewat jalur seleksi yang dibuka beberapa bulan sebelumnya. Teman saya dari Jakarta, Kak Vina yang juga menjadi panitia rekruitmen, mengusulkan saya untuk segera mengirim formulir keikutsertaan sebagai panitia dokumentasi hanya beberapa minggu sebelum Hari Inspirasi.


***

Dua bulan sebelumnya...

"Erikaaa, Aku diterima jadi panitia KI Banjarmasin hahaha. Bagian rekrutmen. Btw di Banjarmasin ada wisata apa aja ka?" tanya kak Vina, backpacker sejati, dan teman jalan-jalan saya yang paling gaul.

"Wah, selamaat! Nggak tau aku kak, belum sampai ke Kalimantan saia..." -__-

"Btw gw mau nanya jadi inspirator kelas KI tuh piye sih?" tanya kak Vina sebulan kemudian.

"Kenalin profesi kakak. Pas ke kelas pakai baju kerja, bikin simulasi profesi. Sama anak kelas 1 dan 2 banyakin main, hapalin banyak yel-yel dan nyanyi-nyaian," jawab saya.

"Nah yang gw bingun gimana cara tuh ngajar ke kelas 1 dan 2 jadi mereka ngerti?" tanyanya lagi.

"Tunjukin gambar atau foto-foto. Biasanya sih lebih ke main kalau kelas 1 dan 2. Atau drama-dramaan kalau mau niat." #penulisdrama.

"Apa gw suruh mereka bikin jadwal pelajaran yak? Sekretaris apa yang mau di dramain? Hahah"

"Oh iya, bisa," -____-

***

Itulah alasan saya belum berani bertanggung jawab menjadi inspirator. Persiapan ekstra untuk tampil di depan anak-anak dan energi yang harus lebih ekstra di Hari Inspirasi membuat saya mundur duluan 😜 Keputusan menjadi dokumentator amatir masih jadi zona nyaman saya, seperti KI yang saya ikuti sebelumnya, dan kebetulan kehadiran saya diharapkan untuk tim SDN Sungai Lulut 2. 

Saya muncul dalam tim tersebut dua minggu setelah dibuat dan dua minggu sebelum hari inspirasi dimulai. Dalam grup itu sempat ada sedikit ketegangan yang terjadi antara panitia dan relawan, yang saya tidak tahu alasannya. Tapi, sedikit demi sedikit suasana mulai melunak dan rencana-rencana mulai dibuat.

Sambil mengikuti perkembangan kelompok saya sibuk mempersiapkan keberangkatan ke Banjarmasin dan merencanakan perjalanan bersama adik saya. Kalau boleh curhat, niat awal saya dan adik saya hanya ingin liburan dalam waktu cuti yang sudah saya ajukan di awal Januari. Tapi, setelah meyakinkan adik saya (yang agak batu dengan keinginannya liburan di pantai) bahwa kegiatan KI di Banjarmasin akan menarik (karena ada wisata air--sungai maksudnya) kita akhirnya berangkat.

***

Hujan gerimis menyambut saya dan adik saya ketika sampai Tanah Lambung Mangkurat, tepatnya di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, di Rabu pagi. Minimnya informasi dan itinerary, membuat saya ragu untuk segera beranjak pergi dari bandara.

Saya pun mencoba menghubungi kak Vina, yang akan datang sore hari--berharap bisa ke Banjarmasin bersama-sama. Nongkrong di 'warung donat' sampai tidur siang di masjid, kami lakukan untuk membunuh waktu, menunggu pesawat singa air yang seperti biasa terlambat datang.

Setelah batang hidung kak Vina terlihat, kami pun segera mengambil taksi untuk menuju Banjarmasin dengan berbagi ongkos (supaya hemat hihi). Kurang lebih setengah jam berkendara, kami dan kak Vina berpisah untuk menuju penginapan masing-masing yang tidak terlalu jauh lokasinya.

Malam itu juga, saya keluar pergi makan dan menuju Duta Mall untuk mengikuti pertemuan terakhir dengan tim saya sebelum Hari Inspirasi. Kami naik taksi yang ternyata cukup mahal bagi kami, karena ongkos dipatok dengan harga tertentu, bukan argo. Fyi, di Banjarmasin angkot jarang ditemukan dan bukan pilihan transportasi umum yang direkomendasikan. Kami yang biasa "ngangkot" di Jakarta pun gigit jari karena harus mengeluarkan uang ekstra untuk naik taksi atau ojek online (bukan Gojek atau Grab atau Uber, tapi ojek yang dipesan dengan aplikasi Whatsapp).

***

Di Duta Mall saya bertemu dengan tim saya, walau tak lengkap. Kami berkumpul untuk mematangkan konsep dan jadwal acara untuk keesokan harinya. Sebelumnya tim ini juga sudah banyak bekerja untuk membuat persiapan, dari mencetak spanduk sampai membuat hadiah buku tulis yang dikemas seperti toga untuk masing-masing siswa yang jumlahnya 200-an.

Bisa dibilang ini tim dengan persiapan cukup wah dan niat. Siapa sangka, para laki-laki super di tim saya mau buat 200-an nametag origami dan toga-togaan dengan hiasan rumai kertas emas, bahkan katanya sampai tengah malam.

Foto istimewa
Yang brilian lagi, tim kami akan mempersembahkan sertifikat "Proklamasi Cita-Cita", untuk mendampingi kertas cita-cita yang biasa dilakukan untuk membungkus Hari Inspirasi. Sertifikat ini nantinya akan bisa dibawa pulang anak-anak untuk ditunjukkan pada orangtua, agar mereka bisa membantu mengawal harapan anak-anak mereka. Mantap, kan!

Di pertemuan yang tak terasa memakan waktu berjam-jam, sampai mal tutup, kami mengobrol tentang banyak hal dan ditraktir makan malam oleh Bapak Fauzi. Teman-teman baru saya ini juga semangat merekomendasikan saya, yang datang paling jauh sendiri, tempat-tempat menarik di Banjarmasin dan sekitarnya untuk dikunjungi sampai saya pulang Sabtu-nya. Pertemuan pertama itu cukup menyenangkan dan saya pun siap untuk menyambut Hari Inspirasi keesokan harinya.


***

Pagi-pagi saya dan adik saya dijemput oleh Pak Fauzi, sebelum kemudian menjemput Pak Yudi (relawan dokumentator yang datang dari luar kota), untuk berangkat ke SDN Sungai Lulut 2. SD ini ternyata ada di perbatasan luar Kota Banjarmasin dan masuk dalam Jl. Martapura Lama, Sungai Lulut, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.

Dekat dengan Sungai Martapura dan berada agak terpencil dibalik pasar dan jalanan sempit, SD Sungai Lulut 2 berdiri sederhana dengan bangunan yang sebagian masih berdinding dan berlantai kayu. Tanah becek bekas hujan sedikit mengganggu mobilitas saya yang saat datang sudah harus mulai beraksi karena seluruh murid sudah mulai berbaris untuk apel.

Sekira 11 tim pun lengkap berkumpul di lapangan. Bahkan kita mendapat tambahan satu dokumentator. Dari dokumentator ada saya sendiri yang bertugas jadi videografer; lalu Pak Yudi, antropolog yang suka bawa kamera dan alat penggiling kopi. Sementara fasilitator tim kami yang super rajin adalah Ripandi,Cindy, dan Kak Eko.

Relawan inspirator SDN Sungai Lulut 2 terdiri Pak Akhmad Fauzi yang bekerja di Bank Kalsel; lalu ada Ibu Amalia, seorang dosen Biologi dan penggiat konservasi Bekantan; lalu ada Kak Anita, presenter cantik dari Duta TV; Kak Ario Dwi, pegawai diklat PLN; kemudian Kak Delsika yang juga seorang dosen cantik; dan Rizky, seorang penyuluh pertanian yang paling rame di tim.

Apel yang dibuka pukul 7.30 WITA, diisi dengan sambutan oleh pihak sekolah dan langsung diserahkan oleh Tim yang dipandu presenter cantik, Kak Anita. Menyanyikan lagu Indonesia Raya, berdoa, penampilan tarian tradisional dari perwakilan murid, sampai latihan yel-yel Kelas Inspirasi, diikuti semua peserta apel dengan antusias. Bahkan orangtua murid tak ketinggalan menonton dan antusias dengan kegiatan kita.
Sekolah ini ada 8 kelas dan untuk Kelas Inspirasi ini kelas dibagi menjadi enam. Menengok pengalaman sebelumnya, kebayang bagaimana akan capeknya mengajar di enam kelas itu secara bergiliran. Tak diduga-duga, semangat anak-anak di sana begitu luar biasa, meski kegiatana cukup lebih panjang daripada kegiatan sekolah mereka sehari-hari.

Kak Delsika yang biasa berhadapan dengan mahasiswa nyatanya bisa berbaur dengan murid-murid dengan gayanya yang ceria. Apalagi Kak Anita yang terbiasa tampil ceria di depan kamera, bisa menggiring anak-anak untuk berani tampil di depan kelas, layaknya presenter. Sementara Kak Amel, yang memang terbiasa memberi penyuluhan tentang konservasi satwa, membuka mata murid-murid (juga saya :D) dengan banyak fakta dan pesan lingkungan.

Mendadak digandrungi fans kecil
Pak Fauzi juga tidak kalah membuat anak-anak senang berpartisipasi dalam Hari Inspirasi, selain menjelaskan profesinya dan mengingatkan anak-anak untuk menabung, Pak Fauzi juga membuat anak-anak berlomba mengincar cokelat sebagai hadiah. Lalu ada Kak Rizki yang datang dengan berbagai materi belajar yang "seksi" untuk divideokan. 


Terakhir ada Kak Ario, yang tampil dengan helm dan rompi lapangannya, untuk menjelaskan asal muasal listrik yang bisa menyalakan berbagai alat elektronik dan mengapa listrik di sekolah itu padam di tengah jalan (peace :v). Kak Ario ini juga jadi yang paling digemari anak-anak di kelas satu, sampai-sampai doi dikerubungi dan terancam berakhir di panti pijat XD. Oh ya, Pak Yudi juga sempat masuk, walau hanya di satu kelas, yaitu kelas 6. Pak Yudi menjelaskan latar belakangnya sebagai antropolog.

Duo favorit anak-anak SDN Sungai Lulut 2

Kalau melihat anak-anak di sini, mereka sama sekali jauh dari ketertinggalan. Hampir semua siswa--baik laki-laki maupun perempuan--berani tampil dan mengutarakan pendapatnya. Tidak jarang juga saya mendengar pertanyaan atau jawaban cerdas dari mereka. Mereka juga nggak gaptek, loh! Beberapa anak sudah kenal smartphone dan gawai lainnya. Kamera saya pun sempat dipinjam oleh satu murid untuk berfoto-foto dan hasilnya lumayan.

Hasil nyolong-nyolong selfie
***

Di akhir sesi mengajar, anak-anak diminta untuk menulis nama dan cita-cita mereka, satu di kertas yang akan ditempel di spanduk dan satu lagi di atas sertifikat "Proklamasi Cita-Cita". Setelah itu anak-anak digiring keluar untuk menempelkan cita-cita mereka. Hari Inspirasi di SDN Sungai Lulut 2 ditutup dengan membacakan proklamasi cita-cita oleh perwakilan kelas dan menerima "toga" layaknya wisuda.




Dokumentasi Foto


Dokumentasi Video

***
Selepas acara, relawan yang rata-rata baru pertama kali ikut Kelas Inspirasi tampak tidak tahan mengungkapkan kesan mereka hari itu. Buat saya, kerja sama tim, dukungan pihak sekolah, dan interest anak-anak membuat pengalaman di KI BJM 2 saya begitu berkesan.
Momen refleksi yang diadakan setelahnya, bersama tim besar KI BJM 2, juga menjadi waktu untuk bertukar pikiran dan saling mengenal lebih jauh. Walaupun tidak semua anggota tim SD Sungai Lulut 2 bisa ikut, karena harus kembali melanjutkan kesibukkan kerja, tapi tim kami yang tersisa tidak lantas kehilangan keakraban. 
Saya justru jadi tahu kalau ada yang juga hobi naik gunung, mereka Kak Ario (keliatan dari gelang tangannya) dan Pak Fauzi. Pak Yudi, yang sudah saya singgung di atas, juga memamerkan hobi menggiling kopi-nya.
Hari Inspirasi mungkin sudah selesai, tapi kegilaan baru dimulai. Mudah-mudahan pertemanan dan silaturahim lanjut terus, yah!


*) Cerita jalan-jalannya nyusul
**) Maapkeun kalau tulisannya agak "kendor" di akhir 

Comments