Belajar Mencintai Kucing

KUCING - Hewan lucu berbulu ini mungkin sudah saya kenal sejak saya lahir. Dulu sewaktu masih batita saya ingat pernah menemukan satu keranjang anak kucing yang baru dilahirkan di bawah kasur tempat tidur orangtua saya. Setelah pindah ke tempat tinggal sekarang, saya juga terbiasa melihat kucing berkat tetangga senior yang senang memelihara kucing liar.

Hidup dan matinya kucing-kucing yang berdatangan ke tempat tetangga pun sering saya saksikan. Pernah saya alami kejadian mengerikan dengan kucing yang menimpa adik saya yang masih bayi karena atap kamar jebol, kucing mati karena faktor usia, sampai mati konyol karena tersengat listrik sampai gosong di atap rumah saya.

Tapi, selama puluhan tahun kedua tangan dan hati saya tidak pernah tergerak untuk memelihara kucing, bahkan sekedar memberi belaian. Sewaktu SD dulu, saya pernah juga memelihara binatang. Burung pipit, ikan cupang, ikan emas, ikan sepat, keong... Tapi itu pun sebatas membeli dan menonton. Tak berani saya menyentuh langsung binatang-binatang itu. 

Saya selalu mengandalkan nenek saya kalau perlu menyentuh hewan seperti itu, seperti ketika harus menguras toples tempat ikan. Urusan memberi makan binatang kecil, yang saya beli di pedagang sekolah, juga saya serahkan pada ayah saya--walaupun sering jadi bencana. Seperti waktu ayah saya yang baik hati niat beli cacing untuk makanan ikan di Pasar Burung, tapi lalu kelupaan sampai busuk 😁

Sementara itu, memelihara kucing sama sekali tidak pernah terpikirkan. Dalam mindset saya dulu, kucing itu hewan yang cuma butuh makan. Bukan hewan yang enak untuk dielus-elus, karena mereka galak, bisa mencakar dan menggigit. Juga di rumah saya ada dua ibu-ibu yang suka menolak keras kucing masuk ke rumah, siapa lagi kalau bukan nenek dan ibu saya.

Ketika mulai senang "menjepret" kucing

Hobi berfoto dengan kamera handphone (jadoel) nggak hanya untuk memotret orang-orang atau pemandangan. Saat mulai kuliah, saya sering memanfaatkan kamera HP untuk "menjepret" kucing-kucing lucu di kampus. Dari situ, saya mulai sedikit berani menyentuh kucing, yang ada di taman-taman atau mushola tempat "nongkrong", dengan mengambil ilmu sedikit dari teman-teman saya yang pecinta kucing.


Pada waktu itu, kucing-kucing kampung piaraan tetangga (Bude Oma, namanya) saya juga sering jadi objek foto. Yang saya ingat ada Emon, Emen, Vege, Abu yang terakhir datang, dan Pussy yang sudah sangat renta. Emon dan Emen yang pejantan umurnya kira-kira sama dan entah mengapa sangat akrab, malahan pernah mereka mengejar satu kucing betina saat sama-sama sedang birahi 😜.

Emen dan Emon
Mereka juga penurut (mungkin karena sudah dewasa), jadi nenek saya juga suka. Nenek saya memang paling benci kucing yang suka masuk ke rumah dan mencuri makanan. Tapi kalau lagi baik, makanannya pun sering dibagi ke anak-anak berbulu yang datang mencari makan.

Abu
Sampai akhirnya Bude Oma dipanggil yang Maha Kuasa, nenek saya mau berbaik hati pada beberapa kucing yang ditinggali tetangga saya, dengan rajin membeli ikan untuk makanan kucing dari tukang sayur di dekat rumah. Sementara yang mengambil alih pengasuhan kucing-kucing itu adalah cucu-cucu Bude Oma dan iparnya yang juga bertetangga.

Sedikit flashback, tak lama setelah Bude Oma meninggal, Pussy yang paling tua dan Emon mati karena sakit. Tak lama kemudian juga cucu-cucu Bude Oma pindah rumah dan membawa Vege. Tinggallah Emen si kucing emas dan Abu yang masih wara-wiri di sekitar rumah saya. Nenek saya kemudian menjadi mau berbelas kasih dengan kucing peninggalan Bude Oma, sayangnya cuma Emen yang diakui.

Kucing Abu yang memang sering berani masuk ke rumah dan sesekali mencuri makanan, bikin nenek saya sebal dan tidak mengakui Abu sebagai kucing Bude Oma #dramadimulai. Melihat ini, saya pun jadi kasihan dengan Abu. Walaupun belum kerja waktu itu dan punya penghasilan tetap, sesekali saya membeli sekeranjang ikan tongkol atau cuek di tukang sayur untuk memberi makan Abu.

Pengalaman dramatis mendatangkan inspirasi

Supaya dramanya lanjut #ahilah, saya mau cerita sedikit pengalaman traumatis saya dengan kucing. Beberapa kali saya melihat kucing liar sakratul maut di jalanan.

Dulu sekali waktu SMA, saya menemukan kucing terluka di arteri besar di lehernya sampai darah muncrat dan dia "kelojotan". Ketika melihat kucing dalam keadaan seperti itu saat lewat di pinggir jalan raya, saya cuma bisa bergidik ngeri dan kabur karena nggak tahu apa yang harus dilakukan.

Pengalaman kedua saya alami saat belum lama bekerja. Saat itu di Jalan Jaksa dekat kantor, saya sedang jalan pulang melewati trotoar di pinggir jalan yang cukup padat kendaraan. Saat sedang jalan seperti biasa, tiba-tiba di depan saya ada kucing yang nampak kaget dengan kehadiran saya dan langsung lari ke tengah jalan. Kecelakaan pun tak bisa ditahan, sang kucing terserempet taksi yang kemudian berhenti mendadak.

Orang-orang di sekitar yang melihat, juga beberapa pengendara motor, pun turun untuk menyelamatkan kucing malang tersebut. Tapi seperti yang sudah-sudah, saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu kucing itu. Rasa takut mulai menyergap karena ada perasaan bersalah telah membuat kucing yang kemungkinan tengah stres itu kaget dengan kehadiran saya dan langsung lari menjemput mautnya.

Perasaan bersalah terus membekas hingga sekarang dan trauma sering muncul ketika saya menemukan kucing diam atau berjalan di tengah jalan. Belum lama ini, saya pernah berespon berlebihan saat melihat dua kucing di dekat rumah berlari lalu hendak menyeberang, di tengah jalan yang sedang cukup padat dilalui motor. Saya yang sedang jalan kaki pun sempat berteriak dan berhenti sambil menutup telinga secara spontan, sampai membuat pengendara motor dan orang di sekitar saya heran.

Pendek kata, karena merasa bersalah tidak bisa melakukan apa-apa pada kucing yang terancam, saya mulai belajar menyayangi kucing. Abu jadi kucing pertama yang membuat saya belajar mengelus kucing dengan tangan, bukan lagi kaki... Mungkin bagi yang sudah biasa, menganggap ini sepele. Tapi bagi saya waktu itu, bisa mengelus kucing dan membuat mereka tenang itu "keajaiban surga"!


Intensitas kehadiran Abu di dekat rumah saya membuat dia biasa datang untuk minta dielus, selain minta makanan. Abu mulai biasa menunggu saya pulang malam hari selepas bekerja atau berkencan (waktu punya pacar...) di teras rumah. Ketika dia mendekati saya, dia akan mengeong dan menjatuhkan diri di lantai untuk saya belai selama beberapa menit.

Bukan cuma Abu yang keasikkan, ketenangan juga saya rasakan saat membelai bulu kucing yang halus dan mendengar dengkurannya... dan ini rasanya seperti "surga"! Setahun lebih saya menjalani hubungan terlarang dengan Abu, yang sering tidak direstui orangtua 😿 Apalagi nenek saya yang masih menganggap Abu kucing liar dan sering memukul Abu dengan tongkatnya... Saya disalahkan karena terlalu menyayangi Abu dan sering disindir sebagai "Bude Oma kedua".

Tapi rasa suka saya pada kucing terus bertambah. Sampai suatu hari saya datang ke acara liputan yang membahas manfaat kucing untuk kesehatan, oleh satu merek makanan kucing. Theme song iklannya yang diputar berulang-ulang, Mas Dikta Kahitna  ganteng yang jadi bintang tamu dengan kucing lucunya, juga banyak ilmu berharga tentang kucing yang teman-teman media gali dari pihak penyelenggara dan dokter hewan, membuat saya mabuk kepayaaang.

Dalam acara liputan itu, juga ada sesi pemutaran video para pemilik kucing yang mengungkapkan pengalamannya memelihara kucing. Video itu sukses buat saya nangis, saudara-saudara! Ada satu quote yang saya ingat, bahwa berbagi kasih dengan hewan seperti kucing adalah suatu kemuliaan bagi manusia yang dilebihkan oleh Sang Maha Pencipta #nangislagi.


Bekal ilmu yang saya dapat dari liputan itu (termasuk bungkus makanan kucing gratis 😺) saya limpahkan pada Abu, juga Emen yang masih ada saat itu... Meski saya tidak bisa memelihara mereka di dalam rumah, saya merasa senang bisa membantu mereka memenuhi kebutuhan perut dan memberi perhatian yang mereka inginkan di kala saya sempat.

Kembalinya kucing melipur lara

Karena sudah terlalu sayang dengan kucing-kucing itu, saya sempat gelisah ketika Abu dan Emen yang mulai sering pergi jauh dari rumah menghilang selama sebulan. Rasa kehilangan cukup terasa, apalagi saat itu saya dan keluarga disibukkan dengan sakitnya nenek selama beberapa bulan. Ego saya mengharapkan kucing-kucing itu hadir untuk menghibur saya...

Sampai akhirnya Abu kembali dan masuk ke rumah saya pada Sabtu sore, tanggal 8 Oktober 2016, satu jam sebelum nenek yang sakit sekarat dan meregang nyawa di rumah. Munculnya Abu sempat membuat keluarga saya yang lain heran. Perginya nenek, yang suka membuatnya takut hanya dengan suara tongkatnya, dibarengi dengan pulangnya Abu ke rumah.

Setia di dekat jenazah nenek
Mungkin itu hanya kebetulan... Tapi kehadiran Abu yang ikut meramaikan rumah kami saat kedukaan bisa saja didramatiasai... Oke, stop, saya tidak ingin menyinggung hubungan nenek saya dengan Abu di masa lalu. Yang pasti Abu saat itu datang di saat yang tepat saya membutuhkan pelipur lara.

Abu pun menjadi satu-satunya kucing kesayangan saya, karena Emen tidak pernah kembali lagi setelah menghilang tahun lalu. Tak lama kucing-kucing lain suka berdatangan ke sekitar rumah. Saat itu ada kucing, dengan perawakan seperti Abu namun dengan satu kaki yang tungkai bawahnya putus--dipotong dengan sengaja oleh orang tidak bertanggung jawab--yang disebut Abu Buntung.

Abu "Buntung"
Abu Buntung sebelumnya cukup sering diperhatikan almarhumah nenek saya juga, tapi belum pernah berani ke rumah. Ada lagi seekor kucing betina dewasa berwarna cokelat, yang kemudian dipanggil Cemong. Saat itu dia bertubuh kurus dan begitu maruk dengan makanan, sampai-sampai sering menyakar dan mengusir kucing lain yang punya makanan dengan keliarannya.


Ketika kucing mungil itu datang

Ketika ketiga kucing itu mulai rutin ke rumah meminta makan, suatu hari di bulan November, dua ekor kucing kecil datang ke rumah tetangga yang juga jadi tempat berkeliarannya tiga kucing "piaraan" saya. Anak kucing berwarna kuning emas dan satu yang berwarna dominan putih dengan corak bulu hitam-kuning, mereka bersaudara.

Sempat terganggu dengan kehadiran mereka, keajaiban kecil terjadi ketika Cemong mau menyusui kedua anak kucing yang tidak sedarah itu. Dari situ saya mulai tau kalau di dunia kucing, seekor kucing betina yang tidak sedarah bisa menjadi ibu angkat bagi anak-anak kucing terlantar. Dan banyak lagi rahasia yang saya pelajari dari insting seekor kucing, mulai saat itu.


Abu, Cemong, dan dua anak kucing itu sering saya biarkan masuk ke rumah, ketika ibu saya pergi pastinya. Semua kucing liar itu tampak seperti keluarga kucing, Abu dengan ketenangan seorang bapak, Cemong dengan karakter "emak-emak" galak, dan anak-anak kucing yang senang ikut-ikutan dan mengeksplorasi lingkungannya.

Tapi, suatu hari si kecil kuning menghilang. Saya yang sempat was-was langsung mencari dia di sekitar rumah sepulang kerja. Bahkan saya sempat mencari bantuan di google, dan menemukan informasi kalau kucing yang hilang bisa karena tersesat, dan biasanya tidak lebih jauh dari empat rumah dari tempat asalnya. Dua hari melakukan pencarian, saya tidak menemukannya dan berkesimpulan dia dicuri orang lain.

Tinggal lah Cemong dan kucing putih yang masih menyusui. Perlahan tapi pasti, sang ibu angkat melepas sang kucing yang sudah berumur beberapa bulan. Cemong pun tidak lagi sering di sekitar rumah bersama kucing kecil yang belum bisa ke mana-mana. Sama halnya dengan Abu yang sering keluyuran, tapi masih sering dijadikan sasaran si kucing kecil yang suka memainkan ekornya.

Cinta tumbuh bersama Lily

Kucing kecil ini yang kemudian sering bermain di sekitar rumah saya. Karena kasihan, saya juga sering mengajaknya masuk ke rumah, walaupun sering membuat orang rumah lainnya risih. Tapi adik perempuan saya yang lebih penakut dengan kucing mulai percaya diri untuk mendekati kucing kecil itu, dan menjadikannya sasaran foto.


Lily, nama itu terbesit ketika ada keinginan untuk memberinya nama. Inspirasi datang dari bunga lily yang berwarna putih dan LILIput yang identik dengan sesuatu yang kecil. Nama itu sering saya sebut sambil menyanyikan akhir lirik lagu "Burung Kutilang" ciptaan Ibu Soed. Lililyyy!

Semenjak tidak lagi disusui dan ditinggal sendiri oleh ibu angkatnya, Lily mulai perlahan saya asuh dengan bantuan adik saya yang mau diajak kerja sama untuk merawatnya. Membeli makanan pun jadi kebutuhan rutin yang harus dipenuhi.

Tapi, niat baik untuk merawat kucing tidak selalu dilihat baik oleh anggota keluarga saya yang tidak suka kucing, juga dengan tetangga di depan rumah. Keberadaan Lily membuat ibu saya rajin menutup pintu rapat-rapat. Lily yang sering menyerobot masuk ke rumah sering membuat ibu saya kesal dan menghabiskan energi untuk marah-marah. Saya dan anggota keluarga lain yang tidak keberatan dengan kucing sering dijadikan sasaran omelan.

Bahkan pernah suatu hari pertengkaran besar terjadi, berawal dari kekesalan ibu saya terhadap kelakuan adik saya yang tidak "cantik" menjaga suasana saat ingin memberi makan Lily. Emosi spontan yang tak perlu sering diluapkan ibu saya, hampir setiap hari.

Apalagi saat Lily yang sudah bisa makan makanan keras sering buang air besar di sembarang tempat, baik di teras rumah saya atau di luar rumah. Mengingat saya tinggal di kampung (bukan di kompleks dengan halaman besar 😁), tetangga yang berbagi halaman dengan rumah saya juga mengeluhkan kotoran kucing tersebut.

Sadar bahwa rajin membersihkan kotoran kucing saja tidak cukup, saya mulai mencari tahu tentang pasir kucing untuk kotoran hewan dari internet dan teman yang juga memelihara hewan. Akhirnya satu hari saya bisa menyempatkan waktu untuk membeli wadah dan pasir kucing, dan berhasil membuat kucing membuang kotoran pada tempatnya. Walaupun itu sudah jadi insting kucing, tapi saya merasa sangat terharu dan bangga 😇

Tapi ujian lain datang ketika tetangga saya "nyinyir" dengan penampakan kotoran kucing yang ada di teras pot rumah saya! Bahkan ibu saya pernah ikut-ikutan mengomeli saya karena keluhan serupa. Saya saat itu seperti judul lagu Raisa--Serba Salah. Ya, unek-unek itu pernah saya ungkapkan dengan kemarahan dan tangisan. Rasanya pengorbanan kecil yang saya lakukan untuk kebaikan satu makhluk kecil tak berdosa tidak ada apa-apanya.

Well, mungkin saya sedikit "lebay". Ibu saya dan (anak) tetangga saya toh tidak sejahat itu, karena masih rela mengantarkan saya membeli kebutuhan kucing dan membantu "ngempani" Lily, seperti saat saya dan adik saya meninggalkan rumah selama empat hari.

Dalam satu bulan belakangan ketergantungan Lily dengan kami semakin menjadi, bukan hanya kebutuhan pangan, tapi juga tempat bermain dan kasih sayang. Ketika ibu saya sedang pergi, saya atau adik saya sering membiarkan dia menguasai rumah.

Kesibukannya menjilati bulu di atas gulungan karpet, rasa penasarannya dengan ruang-ruang di antara lemari ruang tamu, semangatnya memanjat tirai-tirai di dalam rumah, kesenangannya berguling di atas kasur empuk, rasa penasarannya pada kecoa di dapur, dan suara mengeongnya saat ia dibiarkan ayah saya masuk ke kamar untuk membangunkan saya, bikin gemas!

Meski harus rela menyempatkan waktu dan mengeluarkan uang untuk memberi makanan kucing ketika diingatkan adik saya yang menjadi pengasuh Lily selama saya bekerja, saya tetap ikhlaskan untuk makhluk polos nan imut ini.

Lily juga selalu jadi penghibur saya setiap pulang kantor di malam hari. Tak peduli jam berapa, saya selalu sempatkan waktu untuk mengawasi atau mengajak main Lily, di saat keluarga saya sibuk dengan gadget masing-masing atau terpulas. Begitu juga ketika di akhir pekan, Lily mengisi kesenggangan saya yang jomblo ini #lah. Setiap menit di rumah pun saya tak pernah alpa untuk mengecek keberadaannya.

Dan cinta itupun patah...

Saya ingin sekali Lily tumbuh dewasa dan disteril agar tidak hamil dan melahirkan anak-anak yang terlantar seperti dirinya. Pertumbuhan Lily dari waktu ke waktu pun saya coba abadikan dalam rekaman video, berharap suatu hari ini bisa jadi kenangan saat dia sudah bertambah besar nanti. Tapi harapan itu pupus, dua hari sebelum saya menulis ini.

Pagi sebelum berangkat kerja, saya meminta ibu mengantarkan saya membeli makanan dan pasir kucing. Tanggal tua tidak membuat saya ragu untuk mengeluarkan uang demi membeli berkarung-karung kebutuhan Lily dan kucing lainnya. Setelah dapat dan sebelum beranjak pergi kembali, saya menuangkan sisa makanan dari bungkus makanan lama sampai habis untuk dimakan Lily dan menuangkan pasir kotoran di wadahnya yang lama tak terisi.

Siapa sangka, belaian dan lambaian da-dah di pagi itu adalah perpisahan terakhir saya dengan Lily.

Malam itu saya pulang seperti biasa, dan berharap memberi makan Lily yang biasanya sudah menanti di depan rumah. Tapi saat itu batang hidungnya tidak terlihat di sekitar, sekalipun saya memanggil namanya. Adik saya di rumah mengaku terakhir kali bertemu Lily selepas Maghrib untuk memberinya makan.

Saya kemudian sempat menengok ke halaman tetangga, yang sering jadi tempat persembunyiannya. Dan saya menemukannya dalam keadaan terbaring, seperti tidur, di balik pintu pagar rumah tetangga saya. Tanpa masuk ke dalam rumah tetangga, saya mencoba membangunkannya dengan sedikit menarik kaki depannya. Tapi tubuhnya tidak siaga, seperti biasa ia tertidur.

Pikiran negatif sempat mendirikan bulu kuduk, hingga saya kembali masuk ke rumah dan memberi tahu adik saya. Adik saya yang juga penakut mencoba menengoknya dan mengatakan kalau Lily masih tertidur. Pulas. Itu harapan positif yang saya dan adik saya pikirkan, meski beberapa jam sebelum tengah malam saya masih menantinya di depan rumah.

Tidur saya malam itu pun tak nyenyak. Tanpa tahu jam berapa saat itu, saya terjaga dan mencoba mendengar suara-suara dari luar. Berharap ada hentakan kaki-kaki kecil dan berat badan Lily membunyikan benda-benda di teras rumah saya. Kembali tertidur, bukan ketenangan yang saya dapatkan, tapi ketakutan karena mendapat mimpi Lily mati...

Pagi itu saya bangun lebih cepat dan segera solat Subuh, lagi-lagi berharap saat saya membuka pintu rumah ada Lily yang mengharap makanan seperti biasa. Namun yang saya dapatkan nihil. Hanya satu kucing liar yang menyambut saya pagi itu. Menengok ke luar pun tak saya temukan tanda-tanda keberadaan Lily.

Kemudian mata saya tertuju pada pintu pagar yang masih tertutup rapat. Perasaan saya langsung tidak enak dan mimpi malam seperti jadi satu-satunya jawaban. Saya pun mengumpulkan keberanian dengan meyakini kemungkinan buruk itu dan beranjak untuk menengok ke balik pintu pagar.

Dan, benar saja, Lily masih tertidur pulas di posisi terakhir saya menemukannya semalam, dengan tubuh yang sudah memucat dan kaku.

Lily sebelum dikuburkan
***

Ketika menulis ini di kamar saya, saya masih sesekali melongok ke pintu kamar atau beranjak dari kursi untuk mengecek ruang tamu. Satu kebiasaan yang belum bisa hilang semenjak kepergian Lily. Rumah ini pun jadi lebih sepi, meski kucing dewasa lain masih sering mampir untuk meminta makan.

Tapi belum pernah ada kucing yang membuat saya komitmen dengan lebih banyak pengorbanan atau melatih emosi untuk menanggapi mereka yang tidak suka dengan inisiatif saya merawat anak kucing yang belum mandiri. 

Kelucuan fisik dan halusnya karakter kucing ternyata tidak bisa membuat semua manusia luluh dan mau berbagi tempat di bumi ini... Ya, sekiranya itu pelajaran yang saya ambil dari mencintai kucing. Selain bahwa mencintai itu harus siap dengan kehilangan di setiap ujung tongkat estafet yang bernama cinta 💌

Comments