Pantai Batu Pinagut, Surga Tersembunyi di Jalur Trans Sulawesi

Jalur Trans Sulawesi di sebelah utara melalui garis pantai yang nyaris tak ada habisnya. Tapi, ternyata banyak yang tak sadar kalau di jalur tersebut banyak terdapat surga tersembunyi.

Salah satunya adalah Pantai Batu Pinagut, di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara. Pantai andalan kabupaten yang lahir pada 2007 silam ini ada di perbatasan Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Utara.


Ketika penulis berkunjung ke sana dalam Festival Batu Pinagut 2017, laut biru, ombak yang tenang, jajaran pohon kelapa yang membuat sekitarnya rindang, serta bebatuan unik adalah milik "surga tersembunyi" tersebut.

Asal muasal nama

Nama pantai yang membatasi empat desa ini diambil dari bahasa daerah Kaidipang, yaitu "Botu Pinaguto" yang berarti 'batu yang dicabut'.

Menurut informasi Dinas Pariwisata Bolmut, yang diambil dari keterangan Ketua Adat Boroko Utara Hasmoto Van Gobel, nama tersebut berasal dari kejadian ketika penjajah Belanda yang tertarik dengan batu cantik di pantai tersebut tidak berhasil mencabut batu yang diinginkan untuk dibawa pulang.

Bebatuan yang dimanfaatkan leluhur

Bebatuan yang terhampar di Pantai Batu Pinagut ternyata sudah dimanfaatkan para leluhur di daerah setempat pada zaman Kerajaan Kaidipang. Bebatuan diambil untuk perkuburan raja yang disebut "Jere" di desa Kuala. Pemindahan bebatuan dilakukan dengan cara Moluluga, yaitu memindahkan batu secara gotong royong dari satu tangan ke tangan masyarakat yang berbaris panjang.

Memiliki situs keramat

Kekeramatan bebatuan di pantai tersebut juga dapat diketahui dari batu-batu yang dijadikan penanda makam sejumlah tokoh dari sejarah di daerah tersebut. Salah satunya adalah batu di kuburan keramat orang bersuku Ternate yang dinamai "Ponalo".

Sosok Ponalo ini diceritakan ditemukan terdampar dalam keadaan tak bernyawa di Pantai Batu Pinagut. Ponalo terdampar dalam keadaan utuh, masih terbaring di atas tikar berbantalkan sajadah, dengan tulisan di lengannya yang mengungkapkan identitas asal dan nama sang ayah.

Pemakaman masih didatangi untuk berdoa

Meski bisa dikatakan syirik, pemakaman Ponalo masih sering didatangi sebagai media doa bagi masyarakat yang percaya pada kekeramatan makam orang Ternate tersebut. Orang yang tengah bingung pada dua pilihan atau hendak mencari tahu harapan mana yang bisa terkabul bisa membawa lidi-lidi.

Ketika sampai di makam dan memohon izin serta memanjatkan doa bagi Ponalo, orang yang mengharapkan mediasi bisa menancapkan lidi di sekitar tanah makam untuk masing-masing hal yang ingin dilihat nasibnya.

Sebagai contoh, ketika seseorang hendak mengetahui apakah dia akan lulus ujian atau tidak, satu lidi bisa ditancapkan. Setelah doa dipanjatkan, posisi lidi bisa diperhatikan, apakah tetap atau bergerak naik. Jika posisi lidi naik, berarti jawabannya positif.

Demikian menurut orang-orang dari Dinas Pariwisata Bolmut yang mengantar penulis dan rombongan Kementerian Pariwisata ke sana--walaupun gagal sampai karena lokasinya yang cukup tersembunyi.

Tapi jangan salah, banyak masyarakat setempat--baik tua maupun muda--yang niat trekking menelusuri sisi pantai untuk mencapai makam Panolo.

Apa yang bisa dinikmati di Pantai Batu Pinagut?




Suasana pantai jelas jadi daya tarik utama objek wisata ini. Sejauh ini, siapa pun tak perlu mengeluarkan biaya apapun untuk masuk ke sana, termasuk memarkirkan kendaraan. Pengunjung bisa berjalan menelusuri pantai sejauh beberapa ratus meter dan berfoto dengan latar air laut yang sangat biru.

Daya tarik dari bebatuan juga bisa dilihat disudut barat pantai. Bebatuan berbagai ukuran bisa disusuri ketika pantai surut. Bebatuan besar setinggi manusia juga menarik untuk difoto. Pandangan babatuan cantik lainnya agak tersembunyi, namun menyimpan lebih banyak batu cantik lainnya.

Posisi makam Panolo juga agak tersembunyi di balik bukit. Situs tersebut bisa didatangi melalui dua jalur, atas dan bawah. Jalur bawah yang melewati pantai lebih mudah, namun hanya aman dilewati saat pantai surut.

Cara untuk sampai ke lokasi

Pantai di Bolmut ini dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi atau bentor yang menjadi transportasi terjangkau di Bolmut.

Dari Gorontalo, objek wisata ini dapat didatangi dengan menempuh jarak sejauh kurang lebih 3 jam. Sementara dari Ibukota Sulawesi Utara di Manado, perjalanan cukup jauh sekira 6 jam.

Comments