Paspor 24 Halaman Tidak Bisa untuk Ajukan Visa?

Sedikit curhat soal pengalaman saya mengurus perpanjangan paspor akhir Maret 2017 lalu. Ceritanya saya mau memperpanjang paspor 48 halaman saya yang akan habis Agustus mendatang, dengan paspor baru yang 24 halaman.

Alasannya karena kemarin aja saya cuma pakai paspor buat ke Singapura dan Malaysia. Blank! Buku paspor kosong selama lima tahun. Untuk ke depan ada keinginan untuk ke luar negeri sih, kayak Jepang atau Eropah (lalu cek saldo tabungan).

Tapi, kayaknya saya nggak akan mampu penuhin 48 halaman buku paspor--kecuali saya kerja di Garuda Indonesia terus dapet tiket konsesi sampai pensiun atau menangin tantangan jalan-jalan ke seluruh dunia... (doain mimpi saya ya gaes! 😂)

Alasan kedua saya siap mengurus paspor baru 24 halaman karena harganya lebih murah. Dibandingkan dengan paspor 48 halaman yang membutuhkan kocek Rp355.000, paspor 24 halaman biasa cuma Rp155.000 atau Rp255.000 kalau memperpanjang.

Jadilah saya datang ke Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Jakarta Selatan. Waktu itu saya datang kesiangan, jam 9 pagi, tapi masih bisa ambil nomor antrian (2-236 dari 2-030 waktu saya pertama datang 😂). Berjam-jam menunggu, sekira jam 13.30 nomor saya dipanggil.

"Bu, saya mau perpanjang paspor," kata saya sambil menyodorkan map merah berisi dokumen asli dan foto kopi yang diperlukan untuk mengurus perpanjangan paspor.

"Mbaknya ada rencana mau ke mana?" tanya ibu petugas di counter 4.

"Belum tau sih bu. Ini buat persiapan aja kalau suatu saat saya dinas ke luar negeri. Saya bikin 24 halaman aja bu."

"Bikin yang 48 aja biar bisa ajuin visa," ujar si ibu sambil sibuk mengecek dokumen saya.

"Yang 24 aja bu. Yang lama aja nggak penuh."

"Belum pernah ke luar negeri ya?" tanya si ibu sambil mengecek paspor lama saya. "Kalau 24 mbaknya jalan-jalan ke Asia aja kalau gitu."

Lah kan saya juga mau bu ke Eropah atau ke Australi, batin saya. "Emangnya kenapa, bu?"

"Kalau paspor 48 halaman bia buat ngajuin visa. Bisa dipake kalau mbaknya mau umroh, loh," jawab ibu dengan cepat.

Lah kan saya nggak cuma mau umroh kalau keluar negeri, ngebatin lagi. Kemudian merasa seperti dibodohin. Jangan-jangan itu cuma trik supaya... supaya saya bayar lebih...

"Emang mbaknya mau ke mana?

"Belum tau bu, buat jaga-jaga aja kalau ada tugas liputan ke luar negeri."

"Oh, mbaknya wartawan ya?" tanya si ibu setelah mengecek surat keterangan kerja yang saya bawa.

Uhuk, batuk dalem hati. Berharap si ibunya sadar saya wartawan dan nggak mau ngeluarin trik lagi buat maksa pilih paspor 48 halaman. Lalu pergulatan pikiran berkecamuk, 24 atau 48, 24 atau 48, dst... Jangan-jangan kalau cuma pegang paspor 24 halaman beneran nggak bisa buat ajuin visa ke Eropa???

"Yang 48 aja ya? Tiga ratus lima puluh lima ribu?"

Yah, duitnya... sayang. Gimana nih, 355.000 melayang?

"Yaudah deh bu, yang 48 aja," jawab saya.

((uweuuweuuweueueueu)) 

Kemudian saya langsung browsing dan cari tahu benarkah punya paspor 48 halaman lebih aman untuk mengajukan visa? Hasilnya simpang siur. Banyak juga masyarakat umum yang mau membuat paspor 24 halaman justru ditawari paspor 48 halaman oleh petugas imigrasi.

Yang mengejutkan, ketentuan yang dibuat pihak Imigrasi sendiri, tepatnya oleh Direktur Dokumen Perjalanan, Visa, dan Fasilitas Keimigrasian, Djoni Muhammad SH MM, dalam Surat Edaran IMI.2-GR.04.02-1.568 tertanggal 09 November 2010, berbunyi sebagai berikut"

(1) Paspor biasa yang berisi 24 halaman mempunyai fungsi dan derajat yang sama dengan paspor biasa yang berisi 48 halaman, perbedaan terletak pada fisik jumlah halaman dan tarif PNBP,

(2) Paspor biasa yang berisi 48 halaman dapat diberikan kepada tenaga kerja Indonesia (TKI),

(3) Masa berlaku paspor biasa yang berisi 24 halaman yang semula 3 tahun menjadi 5 tahun,

(4) Masa berlaku Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) yang berisi 16 halaman yang semula berlaku 3 tahun menjadi 1 tahun,

(5) Akan diterbitkan SPLP berbentuk lembaran dan dapat diberikan secara kolektif dengan masa berlaku paling lama 1 tahun dan hanya dipergunakan untuk perjalanan kembali ke wilayah Republik Indonesia,

(6) Pembebasan biaya bagi TKI yang pertama kali bekerja di luar negeri diberikan paspor biasa berisi 24 halaman, jika menghendaki Paspor biasa yang berisi 48 halaman, maka dikenakan pembayaran biaya sesuai tarif PNBP yang berlaku bagi paspor 48 halaman.

*Kalau ada yang tahu updatenya mohon dikoreksi

Jadi, saya pasrah. Sio saja!

Tapi, pas sampai rumah saya curhat sama emak. Terus emak saya bilang, "Masa sih? Mama ke Australia waktu itu (2012) pakai paspor 24 halaman nggak kenapa-kenapa."

JDEEEERRRR... 

Comments