Dua Hari Liburan Seru di Purwakarta: Waduk Jatiluhur, Tebing Parang, Sate Maranggi

Setahun lalu, saya dan dua sahabat saya mencoba untuk melakukan liburan singkat akhir pekan ke Purwakarta. Naik kereta lokal dari Jakarta, kita pergi dengan tujuan mencoba mendaki Via Ferrata di Tebing Parang. Selain itu, kita juga mencoba mendatangi Waduk Jatiluhur dan wisata kuliner di hari terakhir.

Fyi, Kabupaten Purwakarta kini termasuk kota yang paling cepat perkembangan pariwisatanya di Jawa Barat. Berada di tenggara Ibukota Jakarta, tepatnya di utara Bandung dan Sukabumi, Purwakarta punya banyak potensi wisata alam, dari Waduk Jatiluhur, ait terjun, Tebing Parang dan gunung-gunung lainnya. Ditambah, sekarang ini, semakin banyak wisata buatan dan budaya lainnya.

Kalau kalian tau update tentang wisata Purwakarta, pasti tau Air Mancur Taman Sri Baduga. Sayangnya, kami ke sana bulan September 2016, waktu atraksi baru tersebut belum dirilis. Tapi, kami enggak kecewa, kok. Apa yang kita dapatkan dari perjalanan "iseng" ke Purwakarta benar-benar seru! Penasaran? Simak tulisan dan video kami berikut ini:

Hari Pertama

Kereta Lokal Jakarta Kota ke Purwakarta

Ini menjadi highlight pertama dari perjalanan kami. Setelah membeli tiket kereta lokal yang hanya Rp6.000 di Stasiun Jakarta Kota, hari Sabtu pagi kami berangkat untuk menempuh perjalanan selama tiga jam. Kereta lokal yang melayani perjalanan sampai Stasiun Purwakarta ini adalah kereta ekonomi dengan sistem jaman baheula. Kenapa? Karena.. Gitu deh... Siap-siap kegerahan dan membagi ruang dengan penumpang yang membludak.

Sebelum benar-benar berhenti di Stasiun Purwakarta, kalian akan disambut dengan tumpukan gerbong bekas yang berwarna-warni. Meski terlihat agak creepy, tapi ini pasti terlihat menggiurkan oleh kids jaman now yang suka banget narsis atau share foto kece di medsos. 

Pengalaman kita kemarin, setelah turun kereta kita ditegur petugas stasiun supaya tidak mendekat atau mengambil foto. Alasannya, karena sebelumnya banyak anak muda yang nekat ke sana untuk melakukan hal yang tidak-tidak, termasuk pacaran di dalam gerbong. Jadi kalau sering diekspos, takutnya banyak anak muda nekat ngelakuin yang enggak-enggak lagi di sana. Waduh...

Pertama kali menginjakkan kaki di Purwakarta

Setelah keluar stasiun, kami mencoba untuk menikmati kota Purwakarta sejenak sambil mencari tempat makan siang. Di sekitar stasiun utama ini ternyata banyak tempat nongkrong dan rumah makan yang asik, selain beberapa bangunan penting. Waktu itu, saya juga perhatikan jalanan tidak begitu ramai dan padat kendaraan. Intinya enggak ada macet kayak di Jakarta. Tentrem banget lah!



Habiskan sore di Waduk Jatiluhur

Menjelang Ashar, perut kami sudah terisi dengan makanan nikmat yang murah meriah, lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Waduk Jatiluhur. Dari lokasi yang masih di sekitar Stasiun Purwakarta, kami naik angkot merah 03 ke Ciganea, kemudian lanjut naik angkot 11 ke Waduk Jatiluhur.

Kami sendiri enggak tau mau ngapain di sana, tapi yang jelas menikmati suasana di pinggir danau buatan tersebut. Kami pun diturunkan di daerah terbuka yang banyak eceng gondoknya dan jadi tempat bersandar perahu-perahu wisata. Di seberang daerah tersebut ada rumah makan, warung, dan fasilitas umum, seperti musholah.

Sisa sore itu, kami coba nikmati waduk dengan sibuk foto-foto, selfie, wefie--ya intinya foto-foto! xD Beberapa bapak-bapak juga ada yang memancing di sana, ada juga seorang kakek yang menawarkan olahan ikan dari waduk untuk dibeli, pastinya juga pengemudi perahu yang menawarkan sewa perahu untuk keliling. Oh ya, kami juga nge-vlog loh! Tonton video kami ya!



Masih tetap dengan tujuan utama, yaitu Tebing Parang karena sudah terlanjur pesan dan bayar paket via ferrata, kita sempat galau karena minimnya informasi ke lokasi dari posisi kami di Waduk Jatiluhur. Walaupun sudah punya catatan sendiri, kita bingung karena posisi yang jauh, hari yang udah hampir gelap, dan takut tidak mendapat angkot ke TKP.

Akhirnya setelah kami saling diskusi, dan tanya-tanya warga lokal di sana, kami memutuskan ambil jalan pintas ke Kampung Cirangkong dengan naik perahu! Kecanggihan teknologi Google Maps pun sempat bikin sahabat saya ragu, tapi akhirnya kita diarahkan untuk menyewa perahu.

Naik angkot sebentar, kami turun di terminal yang ada di pinggir danau dan jadi spot penambatan perahu juga. Di situ kami disuruh menyewa perahu menuju titik terdekat ke Kampung Cirangkong, yang bisa ditempuh dengan setengah jam perjalanan. Kami pun dapat pemilik perahu yang mau mengantarkan kami dengan menyewa sebesar Rp150.000.

Feeling saya yang sejak awal tertantang untuk mengambil jalan pintas ini akhirnya diterima dua sahabat saya yang awalnya ragu, bahkan takut naik perahu. Bersama matahari tenggelam dan riak air Waduk Jatiluhur, kami bertiga sekali lagi mendapat pengalaman tak terduga dari perjalanan gembel super random ini!

Malam-malam panjat via ferrata Tebing Parang

Turun dengan selamat dari atas perahu, kami sampai di sebuah pangkalan ojek di pinggir waduk. Dari situ, kami bertiga dengan ojek masing-masing berangkat menuju Tebing Parang. Udah naik kereta, angkot, perahu, sekarang kami naik ojek motor--naik busnya menyusul besoknya. Belum dua hari di Purwakarta, lengkap semua transportasi umum kita coba haha.

Perjalanan dengan ojek ke kaki Tebing Parang ternyata lumayan jauh. Melalui jalanan yang naik turun, belum lagi beberapa aspal jalan tidak bagus, saya cukup bisa menikmati perkampungan Purwakarta yang hijau dan tenang.

Setelah hampir setengah jam, ojek kami berhenti di depan sebuah pondok yang disebut tukang ojek basecamp pendakian Tebing Parang. Miskomunikasi sempat terjadi karena teman saya yang mendaftarkan kami semua paket wisata panjat via ferrata itu dan tukang ojeknya tidak tahu kalau ternyata ada beberapa operator panjat tebing di Tebing Parang.

Jadi, di Tebing Parang ada empat operator panjat tebing, yang dua di antaranya dikelola masyarakat lokal. Mereka adalah Badega Parang Cirangkong dan Badega Parang Ciheuni. Lainnya adalah Skywalker dan Parang via Ferrata yang masih terbilang baru.




Ternyata, Badega Parang Cirangkong adalah tempat kami seharusnya berada. Sebelumnya, kami memesan paket memanjat 150 meter dan menginap sehari. Begitu sampai di sana, kami disambut oleh beberapa pengelola dan pengunjung yang tampaknya sudah akrab dengan pengelolanya. Beberapa pengunjung yang baru turun juga ada di basecamp.

Hari sudah mulai gelap, tapi kami diajak untuk menginap di atas tebing. What? Artinya, kami harus langsung memanjat tebing malam itu juga supaya bisa menginap. Alamakjang! Teman awak yang penakut dan kami bertiga yang amatiran ini pun enggak bisa menolak ajakan mereka.

Setelah solat Maghrib, kami semua diminta untuk langsung memakai hareness lengkap dengan karmantel dan carabiner, juga helm. Kira-kira dua orang senior, dua pasangan muda, dan empat pengelola Badega Parang ikut bersiap naik ke atas dengan membawa tenda juga perlengkapan menginap. Pengelola ternyata juga sudah menyediakan makan malam untuk liwetan di atas.

Gila! Kegiatan memanjat via ferrata yang enggak biasa di malam hari ini, juga rencana menginap di atas tebing, jadi bonus perjalanan yang berkesan banget. Apalagi orang-orang yang menemani kami cepat akrab dan melayani banget, kayak keluarga yang udah lama kenal.

Setelah pasang tenda, foto-foto bareng, makan liwetan bareng, kami bisa menyaksikan lampu-lampu kota dan tambak di Waduk Jatiluhur dan sekitarnya. Walaupun hujan gerimis sempat turun, langit malam minggu itu bikin suasana makin romantis. Huuuy...

Asik-asik di atas Tebing Parang



Walaupun cuma duduk-duduk cantik dan gaya-gayaan dengan herness atas ketinggian 200a-an meter, tapi suasana pagi itu benar-benar aduhai. Ya, walaupun dari titik itu kami enggak bisa liat matahari terbit dan sempat berawan. Mau tau apa yang kita kerjain di atas? Tonton video-nya dulu, dong!

Oh ya, di Badega Cirangkong ini kami juga ketemu dengan Manusia Cicak dari Tebing Parang. Kalau kalian udah tonton video di atas, di sana ada Kang Miftah. Sebelum ambil video itu kita enggak tahu kalau dialah manusia cicak yang sesungguhnya. Siapa sangka, ternyata Kang Miftah ini "membumi" banget!



Manjakan perut dengan sate maranggi

Kalau ngomongin kuliner Purwakarta, yang paling terkenal jelas sate maranggi-nya. Sate dari sapi yang punya bumbu pedas khas ini enggak kita lewatkan. Selesai turun dari Tebing Parang, kami langsung pergi ke Plered dengan kendaraan umum.

Seperti yang disarankan orang-orang yang kami temui, kami pergi ke satu spot kuliner yang ada di samping Stasiun Plered. Spot tersebut menampung sejumlah penjual sate maranggi di bawah satu atap. Selain banyak pilihan, makanan yang dijual juga terbilang murah, loh!



Yuhuuu! Dua hari di Purwakarta kami banyak dapat pengalaman seru dan tak terduga. Saya sendiri masih pingin coba ke Gunung Lembu dan nengok Air Mancur Sri Baduga. Kalian juga punya pengalaman wisata unik di Purwakarta atau baru ingin coba ke sana? 

Comments

  1. Seru banget jalan2nya mbak. Saya blm pernah ke Purwakarta.
    Kalau Waduk Jatiluhur gk asing namanya, tapi baru tau kalau ternyata ada di sana to?
    Sate Maranggi pernah makan jg tapi kyknya yg di Jkt mungkin beda sama aslinya kali ya.
    Video2nya seolah bikin saya berada di sana heehe TFS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru banget April! Itu pertama kali aku main ke Purwakarta dan nagih banget! Wisata air, gunung, kuliner, dapet semua di sana. Makasih ya udah mampir ^^

      Delete

Post a Comment