Terpujilah Alam Tidore dan Kotanya yang Sepi

"Welcome to kota sepiiiiiiiii," komentar seorang teman pada video ala-ala travel blogger saya tanggal 6 Desember lalu. Saat itu saya memposting rekaman dari atas motor, ketika saya dengan beberapa kawan berkeliling Pulau Tidore seharian.

Selepas perjalanan, saya pun membalas, "Tentrem.. Ga kayak Ternate yg dah rame." Ya, itu kesan yang saya dapat setelah beberapa jam melihat-lihat Kota Tidore. Dan saya suka! Jauh dari pusat kota Ternate yang kini sudah ramai--bahkan biasa dengan kemacetan--Tidore bikin saya pingin punya rumah hari tua di sana.

Saya yang saat itu sudah hampir lima hari tinggal di Ternate, tidak punya rencana atau ekspektasi khusus sebelum ke Tidore. Hanya ingin memanfaatkan waktu dan kesempatan karena ada Kak Fandy, pemuda asli Ternate, yang mau dengan sukarela mengajak saya main ke sana di tengah waktu kerjanya.

Saya dengan Zul, teman yang juga berasal dari Ibukota, dan Kak Fandy memberangkatkan motor kami ke Pelabuhan Bastiong di tengah hari yang sangat panas. Pelabuhan begitu ramai ketika kami tiba. Kapal besar sampai speed boat kecil yang menjadi kendaraan penyeberangan umum ke Tidore bersandar di dermaga.

Setelah membayar retribusi masuk pelabuhan sebesar Rp3000, dua motor kami diparkirkan di tempat yang sudah disediakan. Kami kemudian naik speed boat yang akan diberangkatkan segera. Oh ya, sebelumnya saya sempat jajan kacang kenari!

Cerita sedikit tentang kenari, kacang ini memang banyak dan biasa banget jadi kudapan di Indonesia timur, termasuk di Maluku Utara. Kalau kata anak Jakarta, kacang kenari di sana udah kayak kacang goreng. Yang belum tahu, kacang kenari itu kacang berukuran besar dengan kulit tipis berwarna kemerahan.

Selain coba kacang kenari tok, saya juga coba kacang kenari yang dibalut gula merah alias ting-ting kenari. Beberapa kuliner dengan kenari lainnya juga pernah saya coba, contohnya Air Guraka (minuman rempah dengan remahan kenari). Banyak juga oleh-oleh camiln berbahan kenari yang sudah saya coba, dan semuanya enyaaaaak!

Kembali ke... speed boat! Kapal yang setiap hari membawa penumpang bolak-balik Ternate-Tidore ini ada banyak. Yang saya tahu dari teman, tersedianya dari pagi sampai jam 9 malam. Ongkos perjalanannya kemarin Rp10.000. Kapasitasnya? Saya nggak ngitungin sih, tapi sepertinya nggak bisa lebih banyak dari 20 orang.

Nggak sampai 10 menit, kami bertiga sampai di Pelabuhan Rum Tidore. Sesampainya di sana, kita baru dimintai ongkos speed boat. Sebelum lanjut, Kak Fandy meminta saya dan Zul menunggu di pelabuhan karena dia perlu meminjam motor ke temannya. Terpujilah wahai engkau, kakak Fandy! 

Nggak pakai lama ceritanya, Kak Fandy datang bersama satu teman perempuan asli Tidore dengan motor masing-masing. Ternyata masih banyak orang baik di dunia ini yang datang membantu di waktu yang tepat. Alhamdulillah! Kie Duko, kami dataaaang! Ngeeeeng!

Halaman pantai belakang rumah

Saya nggak pernah ngebayangin gimana asyiknya punya rumah dengan halaman pantai pasir putih berlatar pulau-pulau cantik dengan gunung menjulang. Di Ternate, Tidore, atau pulau tetangga lainnya mungkin itu bukan sesuatu yang 'wow'. Tapi buat saya itu mewah banget! Tempat yang saya datangi pertama kali di Tidore adalah pantai tak bernama, yang posisinya ada di belakang kebun dan rumah warga.

Jalan sedikit melalui kebun warga, Pulau Maitara dan Ternate terhampar di depan mata kami. Pasir putih dengan rumah-rumah kerang terbengkalai dan sponge laut yang terdampar jadi tempat kami berpijak. Sinar matahari yang nyaris jatuh di atas kepala kami membuat pemandangan laut jadi lebih cantik, seperti ini:

Pantai dengan latar Maitara-Ternate (Foto: Fandy)

Awal yang bagus untuk perjalanan singkat yang indah! Kami terus bergerak ke arah selatan. Masih terus menyusuri jalan utama yang di kanannya laut dan di kiri pemandangan Kie Matubu alias Gunung Tidore. 

Merah Putih pertama di timur Indonesia

Di satu titik kami sempat melewati sebuah tugu peringatan yang dulu pernah menjadi tempat pengibaran bendera Merah Putih pertama di wilayah timur Indonesia. Sayangnya kami tak sempat berfoto di sana. Kak Fandy hanya sempat bercerita kalau orang yang membuat bendera Merah Putih pertama di timur itu masih hidup.

Dia adalah Nenek Amina. Mungkin bisa disebut Ibu Fatmawati dari Timur. Nenek Na, begitu ia disapa, menjahit bendera itu dan menyerahkannya kepada para pemuda yang ingin segera meraih kemerdekaan dari penjajah Jepang. Bendera Indonesia ini pun dikibarkan di Tanjung Mareku.


Lagi lagi pantai  

Kalau mau dirangkum sekaligus, setidaknya tiga pantai non-komersil saya datangi. Memang ada yang komersil? Ada. Belum pernah ke sana sih, tapi ada beberapa pantai yang kami lewati sudah jadi daerah atraksi turis yang dikelola pemerintah, seperti Pantai Tugulufa dan Pantai Akesahu. 

Pantai yang kami datangi selanjutnya adalah pantai di selatan Tidore yang menghadap Pulau Mare. Kak Fandy mengajak kami ke sana karena pasir pantainya putih dan lebih lebar. Kalau saya tinggal di sana, mungkin tiap hari saya jogging di pinggir pantai itu deh.

Ehmm! (Foto: Zul) 

Fyi, Kota Tidore tidak semoderen Ternate. Belum ada mal, departement store, bahkan mini mart yang terkenal ada setiap 20 meter itu cuma ada sat (dari yang saya temui). Tapi, banyak warga yang membuka toko serba ada dan usaha kecil menengah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Apalagi ya.. Gedung yang menjulang tinggi juga tidak saya temui di sana. Pokoknya masih nyata sekali kesederhanaannya (sederhana nggak selalu berarti tertinggal ya!).

Benteng Tahula dan Benteng Torre

'Pulau Seribu Masjid' alias 'Pulau Seribu Jin' ini juga punya beberapa benteng bersejarah. Kebetulan saya dibawa ke Benteng Tahula dan Benteng Torre. Posisi keduanya tidak berjauhan dan letaknya ada di kanan kiri Kedaton Kesultanan Tidore, tepatnya di daerah Soa Sio (nama kelurahan yang sama seperti di Ternate dan menjadi tempat bangunan kesultanan).


Karena kita jalan dari selatan, benteng yang pertama kali kita datangi adalah Benteng Tahula. Bentengnya ada di sisi kiri jalan pertigaan, seberang perbatasan laut. Dari pintu masuk, kita harus menaiki puluhan anak tangga batu yang alamaak terjalnya!

Plang besi merah bertuliskan Benteng Tahula pun menyambut, diikuti tanaman bunga dengan warna warni cantik. Tapi, ternyata masih harus naik tangga lagi kalau mau ke atap benteng. Setelah di tambah tangga besi, akhirnya sampai lah kita di sana.

Di sana ada apa? Ada pemandangan kota dan laut yang super indah! Seperti di bawah ini:

Pemandangan wilayah pinggir laut Soa Sio Tidore

Berbeda dengan Benteng Tahula, yang menurut catatan sejarah dibangun oleh penjajah Spanyol, Benteng Torre konon dibuat oleh orang Portugis dan diambil dari nama seorang kapten yang mendaratkan kapalnya di Tidore pada abad ke-16. Benteng Torre ini juga bisa ditengok dengan naik tangga terlebih dulu. Baru setelah itu, bangunan benteng yang dipercantik tanaman berbunga terlihat.


Kedaton Kesultanan Tidore

Kalau sebelumnya di Ternate saya sempat masuk ke dalam Kedaton Kesultanan, di Tidore ini kita cuma lihat-lihat luarnya saja. Nggak luarnya juga sih, kita sempat masuk ke halaman, bahkan bertemu dengan satu bapak keluarga kesultanan--yang juga teman Kak Fandy.

Setelah mereka bertemu dan ngobrol lama dengan bahasa lokal yang tidak saya mengerti-sementara saya melumat satu per satu potongan wafer Selamat--kami bergerak ke depan bangunan kedaton dan berfoto-foto.




Saat kita datang ke sana, hanya ada satu abdi kesultanan yang terlihat sibuk bersih-bersih di luar kedaton. Tidak ada sekuriti juga... Tidak. Padahal saat itu sultan sedang ada di dalam kedaton (kata teman saya karena bendera kesultanan dipasang bersama bendera Merah Putih). 

Bayangan tentang kegemilangan Kesultanan Tidore yang diceritakan di buku-buku sejarah pun buyar. Kini bangunan tersebut kabarnya hanya dipakai untuk acara seremonial dan tempat memuseumkan benda-benda pusaka milik kesultanan. 


Rumah tradisional Tidore


Ketika hari mulai sore, motor kami berhenti di daerah perkampungan pinggir pantai. Teman kami yang asli Tidore membawa kami ke satu rumah tradisional Tidore yang masih tersisa. Rumah tersebut menghadap sebuah tebing tanah merah, yang tidak terlalu tinggi tapi cukup terjal. Rumput hijau seperti rumput Jepang jadi halaman rumah berbahan kayu tersebut.

Kata teman saya ini, rumah tersebut ditinggali orangtua yang masih mempraktikkan kepercayaan mistis para leluhurnya. Datang dari arah belakang rumah, kita lihat beberapa pemuda sedang duduk-duduk di depan rumah tradisional itu sambil berselfie.


Coba bergabung pemuda-pemuda itu, tahu-tahu seorang nenek muncul dan mendekati kami. Awalnya saya senang dan melempar anggukan permisi kepada nenek yang ternyata pemilik rumah tersebut. Tapi, si nenek berbicara dalam bahasa lokal dengan nada seperti terganggu. Teman saya bilang, kami nggak bisa masuk ke rumahnya. Huft.

Rumah Tradisional Tidore


Prasasti Pendaratan Kapal Spanyol



Prasasti Pendaratan Kapal Spanyol

Sebelum mengakhiri perjalanan, kami singgah terlebih dulu di situs tempat pendaratan kapal Angkatan Laut Spanyol. Lokasinya tidak terlalu jauh dari utara Pelabuhan Rum. Di sana terdapat sepetak tanah yang dipagari tembok dengan sebuah prasasti dari tahun 1993.

Prasasti tersebut dibangun oleh perwakilan pemerintah Spanyol di Indonesia untuk menandakan momen bersejarah yang terjadi pada tahun 1521. Angkatan Laut Spanyol Trinidad dan Victoria yang dipimpin Kapten Juan Sebastian Elcano singgah di daerah tersebut dalam misi mengelilingi dunia.



After Taste

"Damainya suatu kota diukur dari jalanannya". Kesimpulan itu entah kenapa terbesit di pikiran saya saat pertama datang di Tidore. Selepas meninggalkan pelabuhan, jalanan justru semakin sepi. Hanya gerombolan siswa-siswa pulang sekolah yang sempat saya lihat meramaikan badan jalan. Selebihnya sepiii. Bahkan saya jarang melihat hewan, berlalu lalang di satu-satunya jalanan utama di Tidore.

Tidak ada adegan ngebut mengejar kendaraan lain yang menyalip atau menyalakan klakson untuk menegur pengguna jalan lainnya, perjalanan selama beberapa jam mengelilingi Tidore benar-benar damai--sedamai pulaunya.

Keindahan alam Tidore juga bikin saya terkagum-kagum, walaupun baru pinggiran pulaunya saja yang saya jelajahi. Setidaknya saya sudah menemukan satu tempat lagi di Indonesia yang cocok sebagai lokasi wisata kece dan pas untuk dijadikan rumah hari tua :D


Comments

Post a Comment