Yang Saya Dapat dari 11 Hari di Ternate

"Sudahkah menandai kalender 2018 tuk ke Ternate?"

Pertanyaan itu berulang kali dilontarkan Kak Maulana dalam grup WhatsApp Silaturahmi KI TTE, pada anggota grup yang sebagiannya berasal dari luar Ternate. Perasaan baru kemarin saya mengikuti Kelas Inspirasi Ternate. Ternyata kegiatan itu sudah lewat sebulan yang lalu, dari waktu saya menulis artikel ini.

Pertama kali diadakan Desember 2017 lalu, KI TTE telah mengantarkan saya pada gerbang utama jalur rempah di Indonesia. Kesempatan tersebut juga menjadi penarik utama saya melepas pekerjaan saya dan memutuskan untuk mengambil waktu berlibur di luar kota terpanjang seumur hidup saya.

11 HARI!

Waktu yang cukup panjang untuk berbagi dengan anak-anak sekolah dasar di Pulau Hiri dan membangun jaringan dengan para sukarelawan.



Menengok pohon rempah tertua di dunia dan beragam tanaman rempah, melalui wisata lingkungan bersama komunitas pelestari warisan budaya #TernateHeritage.



Puas main di pantai-pantai cantik layaknya "shorga" di Ternate--bahkan juga menyelami keindahan bawah laut di salah satu pantainya. Mendatangi sejumlah benteng bersejarah di sana. Tak ketinggalan bersilaturahim ke dalam Keraton Kesultanan Ternate yang terbuka untuk wisatawan.

Baca: Objek Wisata yang Pertama Kali Saya Datangi di Ternate 

Hal yang serupa juga dilakukan di pulau tetangga Ternate, yaitu Tidore.

Baca: Terpujilah Alam Tidore dan Kotanya yang Sepi

Tidak lupa juga mampir ke pulau tetangga terbesar di Maluku Utara, yaitu Halmahera. Jailolo, yang berada di Halmahera Barat, adalah salah satu destinasi yang cukup dekat untuk dikunjungi dari Ternate.

Baca: Ketika Liburan di Jailolo Menguras Adrenalin

11 HARI!

Menikmati waktu yang terasa berjalan lebih lambat bersama "papa piara" (nama lain dari ayah asuh atau pemilik rumah yang menampung saya selama di Ternate), juga teman-teman baru di Ternate. Nongkrong setiap malam, menemani teman-teman sepulang mereka kerja. Berkonvoi di atas motor-- menyisir jalanan, merajut cinta.

11 HARI!

Belum saya daki ancala-ancala (baca: gunung-gunung) yang menjulang di tiap pulau negeri Kie Raha. Juga belum saya lihat beragam atraksi budaya yang kini sering ditontonkan sebagai ajang promosi wisata Maluku Utara.

"Jadi, sudahkah menandai kalender 2018 tuk ke Ternate?"

Ya... Ya! Saya tentu mau kembali lagi.  

Comments

Post a Comment