Kemping (Gagal) Ceria di Gunung Lembu Purwakarta

Lama nggak ketemu alam, sebagai pecinta alam *hoeks* saya kangen sama yang namanya kemping ceria di gunung. Maret 2018 ini pun saya kepikiran untuk pergi ke Gunung Lembu.
Gunung Lembu adalah salah satu gunung di Purwakarta, Jawa Barat. Alamatnya di Kampung Panunggal RT006/003, Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani. Ketinggiannya cuma sekira 792 meter di atas permukaan laut dengan jalur pendakian yang menurut banyak orang tidak terlalu sulit dilalui (saya akan membuktikannya *macam iklan*), sehingga cocok untuk didaki siapapun.
Gunung ini punya spot terbaik untuk melihat pemandangan Waduk Jatiluhur dari ketinggian. Itu salah satu alasan saya ngidam pingin ke sana, selain karena cukup dekat dengan Jakarta. Kali ini saya pun mengajak adik (paling rempong) yang udah kebelet belajar naik gunung, kita berdua pergi di dua hari akhir pekan, Sabtu-Minggu.

Perbekalan kemping

Kita masing-masing bawa satu pakaian ganti, sarung untuk selimut (no sleeping bag karena pasti nggak dingin), sendok makan, sikat gigi, tisu basah, dan lainnya yang nggak perlu dijabarin. Yang pasti kita bawa tenda monodome pinjaman dan uang.

Mengingat ini kemping minim budget dan antiribet, saya nggak ada rencana untuk masak-masak dan nggak mau repot pinjem nesting dan kompor. Kita cuma bawa camilan untuk dijalan dan botol minum. Buat makan dan minum di tempat kemah baru dibeli di Purwakarta.

Transportasi ke Purwakarta dan Gunung Lembu

Untuk ke Purwakarta, kita pergi dengan kereta lokal. Belajar dari pengalaman ke Purwakarta 2016 lalu, kita naik KA Walahar Ekspres paling awal. Fyi, 2016 lalu kereta lokal ke Purwakarta dari Jakarta berangkat dari Jakarta Kota, tapi 2017 kemarin ternyata sudah dipindah ke Tanjung Priok. 

Untung saya sempat searching update jadwal keretanya dulu. Kalau nggak mungkin kita bakalan melongo di Stasiun Jakarta Kota. Selain titik keberangkatan, yang berubah dari KA Walahar adalah jadi ber-AC. Persis kereta ekonomi jarak jauh ke Jawa gitu deh. Yang nggak berubah adalah harga tiketnya masih Rp6.000 dan stasiun-stasiun pemberhentiannya.

Naik kereta dari Stasiun Kemayoran jam 10 lebih, kita sampai sekira jam 12.30-an. Rencana selanjutnya, dari yang sudah saya baca-baca di internet, adalah cari angkot yang bisa disewa bersama sampai ke Basecamp atau Posko Gunung Lembu di Kecamatan Sukatani.

Stasiun Purwakarta (sumber: dok. pribadi)

Setelah keluar stasiun kita berniat makan siang. Tapi jodoh emang nggak ke mana, akang-akang supir angkot langsung menghampiri kita untuk menawarkan jasa angkutannya.

"Mau ke mana, neng? Gunung Parang? Hutan Pinus?"

"Ke Lembu, kang."

"Berdua aja?" Kakang supir meneliti saya yang bawa carrier 65 liter sendiri.

"Iya. Kalau boleh tau berapa ongkosnya?" tanya saya langsung tanpa basa-basi. 

"Dicariin dulu barengannya. Kalau empat orang aja saya mau nganterin, nanti bayar 30 ribu aja."

"Kalau pait-paitnya cuma kita berdua, bayar berapa kang?"

"Kalau terpaksa dua orang, 12 aja."

Duh, mahal juga, pikir saya.

"Dicariin dulu barengannya. Kalau emang tinggal neng ini berdua ya 60 rebu ya. Pasti dianterin sampai sana. Saya juga bisa beli bensin. Ke sana kan emang nggak ada angkotnya, jalannya juga lumayan jauh. Kita saling bantu aja."

"Yaudah kang. Tapi kita mau makan siang dulu ya. Bakalan masih ada kan angkotnya?"

"Ya, kita bisa nunggu sampai kereta kedua dateng, nanti jam 2. Biasanya sih ada dua rombongan gitu."

"Yaudah nanti kita balik lagi ya, kang. Makasih." Saya dan adik saya pun pergi untuk cari makan siang dengan harapan kembali lagi ke stasiun sebelum jam 2. Tapi belum ada sejam kita sudah nggak betah dan memutuskan kembali ke stasiun. Stasiun sepi tapi akang-akang supir tadi masih ada.

"Yah. Neng, tadi ada empat orang yang mau ke Lembu juga. Tapi baru aja berangkat. Saya cariin kalian tapi nggak ada."

"Yah, sayang banget!"

"Tunggu aja kereta kedua nanti ya. Siapa tau ada yang mau ke Lembu."

Saya jadi menyesal (dan lebih menyesal lagi nanti) karena terlewat kelompok lain yang mau ke Lembu. Selama menunggu kereta kedua, saya banyak mengobrol dengan akang supir itu, juga dengan supir ojek yang juga berusaha membujuk kita.

Beberapa fakta yang saya dapatkan tentang transportasi dari Stasiun Purwakarta ke Gunung Lembu dari perbincangan kemarin adalah:

1. Ongkos dengan ojek per motor: Rp80.000
2. Ongkos sewa angkot per orang dengan minimal penumpang sejurusan 4 orang: Rp30.000
3. Kalau cuma dua orang, ongkos sewa angkot per orangnya jadi dua kali lipat atau sesuai nego dengan supir
4. Angkot yang menawarkan jasa ke sejumlah lokasi wisata di Purwakarta ini aslinya adalah angkot resmi dalam kota dengan jurusan tertentu
5. Perjalanan sampai ke Posko Gunung Lembu memakan waktu 1 jam lebih dengan jalan yang berkelok, sempit, dan tak sedikit rusak. Jadi pikir-pikir lagi mau pilih naik motor atau mobil
6. Angkot atau ojek yang siap di sewa ini tersedia mengikut jadwal kedatangan kereta di stasiun, baik siang atau malam
7. Untuk menyewa kendaraan kembali ke stasiun, bisa membuat janji dulu dengan supir transportasi yang mengantar kita ke Lembu

Kembali ke pengalaman saya yang kemarin, ternyata nggak ada penumpang di kereta berikutnya yang juga mau ke Gunung Lembu. Walhasil, saya dan adik saya harus siap-siap mengeluarkan uang lebih. Supir angkot yang mengantarkan kami juga tidak mau rugi, ia pun menawarkan tiga penumpang lainnya yang ingin menuju Plered (sejalur dengan rute ke Sukatani). Jadi, nggak cuma nganter kita berdua.

Memulai pendakian yang kesorean

Jam 5 sore kita akhirnya sampai di Posko Gunung Lembu. Di sana ternyata kita tidak sendiri. Ada sepuluh anak muda lainnya, beberapa di antaranya ternyata juga satu kereta dengan kita. Namun, karena ada insiden mogok, mereka baru sampai sore. Ada juga 3 orang perempuan yang niatnya ke Gunung Bongkok, tapi nyasar di Lembu (nggak ngerti deh kenapa mereka masih ngotot ke sana, udah mau gelap coy!).

Di posko, penjaga langsung meminta kita mengisi buku tamu. Saya mewakili adik saya menulis nama, jumlah rombongan, asal, dan nomor kontak, serta membayar simaksi sebesar Rp15.000. Nggak ketinggalan, kita beli satu botol besar air mineral (Rp6.000), dua porsi nasi buat makan malam dan sarapan (Rp22.000). Selain itu juga mampir ke toilet dan peregangan sebentar.

Btw, fasilitas di Posko Gunung Lembu ini cukup lengkap, dari warung, warung makan, kamar mandi gratis, musholah, balai untuk istirahat. 

Setelah itu kita pun memulai pendakian, berdua ((berdua)). Jujur, ini pertama kalinya saya naik gunung berdua dengan teman jalan yang nggak ekspert di aktivitas itu. Sebagai kakak yang lebih pengalaman, otomatis saya harus siap jadi leader dong. Dengan modal Bismillah, kita mendaki perlahan.

Related image
Peta rute pendakian di posko (sumber: Kompasiana)

Dari awal pendakian, kita melalui hutan. Medannya langsung menanjak, tapi tidak telalu curam. Sayang, tanah lempung yang jadi karakteristik tanah di sana masih lembab dan lengket. Tapi yang paling mengganggu sore itu sesungguhnya adalah kehadiran nyamuk-nyamuk super duper ganas. Selain jalur yang membelah hutan, ada juga jalur yang berbatasan dengan jurang. Bonus atau jalan yang nggak menanjak juga beberapa kali kita temukan di sana.


Mendirikan kemah di Saung Ceria

Setelah kurang dari sepulu menit berjalan, ada dua percabangan dengan salah satu cabangnya mengarah ke Saung Ceria Pasirompang. Saya dan adik saya mengambil jalan tersebut untuk berjaga-jaga kalau kita memutuskan mendirikan tenda di daerah perkemahan tersebut.

Ternyata nggak perlu waktu lama untuk sampai di lokasi Saung Ceria. Kita disambut saung yang saat itu dijaga oleh dua bapak. Setelah bilang permisi, saya bertanya di mana lagi ada spot perkemahan di Gunung Lembu. Menurut salah satu bapak, ada dua lagi di atas. Satu hanya 10 menit dari Saung Ceria, satu lagi masih harus 1 jam mendaki--yang artinya udah deket puncak.

Saya pun nengok ke adik saya. Waktu mendaki, ia sempat mengaku jantungnya deg-degan karena naik terlalu cepat. Awalnya saya sempat bimbang, apakah mau meneruskan pendakian atau berhenti di sana, lalu pergi ke puncak besok pagi. Tapi, setelah lihat muka melas adik saya dan mempertimbangkan waktu, akhirnya saya memilih langsung mendirikan tenda di sana.

Saung Ceria Pasirompang ini adalah tanah terbuka yang berada di sisi kiri jalur pendakian. Dari sana, pemandangan Waduk Jatiluhur, juga Gunung Parang bisa terlihat. Menurut bapak-bapak yang saya datangi tadi, Saung Ceria sering jadi lokasi perkemahan besar-besaran. Waktu itu pun kita bersama puluhan pemuda dari komunitas lokal yang tengah melakukan semacam acara pengukuhan gitu.

Di Saung Ceria juga terdapat beberapa balai, yang bisa dipakai untuk istirahat. Ada juga menara pantau. Tak ketinggalan tempat sampah. Kebetulan saya memilih membangun tenda di bawah satu pohon rendah, supaya nggak langsung terekspos hujan.

Benar aja, waktu lagi kesusahan pasang rangka tenda, tiba-tiba hujan turun. Byuuur... Wusss... Hujan yang awalnya rintik jadi deras dengan angin yang nggak main-main. Dengan panik, saya menyelesaikan pemasangan kerangka tenda, tanpa pasak dan flysheet (yang lupa dipinjam). Saya pun mengeluarkan jas hujan buat menutup bagian atas tenda yang terbuka.

Semalaman terperangkap dalam badai

Mimpi buruk kemping di musim hujan pun kejadian. Dari yang awalnya mengira ramalan cuaca hari itu meleset, karena hujan tak kunjung nampak sampai sore hari, akhirnya dijawab dengan hujan petir. Selama beberapa jam di awal malam yang panjang, saya dan adik saya disibukkan dengan mengeluarkan air hujan yang merembes ke tenda.

Mau tidur pun takut karena petir yang menggelegar tak kunjung berhenti. Ditambah lagi tenda kita didirikan tak jauh dari pohon--ya, takut-takut teori pohon mudah tersambar petir itu keadian dan menimpa kita. Sepanjang awal malam itu, kita sempat makan malam dengan nasi yang dibeli di posko, internetan (walaupun sinyal cuma Edge, sesekali H+), tapi dalam hati saya kebanyakan berzikir dan berdoa supaya badai cepat berlalu.

Selain susah tidur, mau buang air pun juga. Adik saya yang belum terbiasa pipis di luar toilet pun ogah, walaupun saya bilang siap menemani saat hujan agak reda. Terpaksa, saya pun menyarankan adik saya pipis di dalam tenda dengan plastik kresek. Jangan ragu untuk ditiru, gaes

Tenda lembab, banyak nyamuk, baju basah, hujan petir, posisi tenda jauh dari keramaian, bikin rencana kemping ceria pupus seketika. Percaya atau nggak saya nggak bisa tidur sampai pagi, selain merem-merem ayam. Lewat tengah malam, adik saya bisa tidur ketika hujan berhenti dan sudah pipis dua kali. 

Dia kembali bangun sekitar jam 3, sementara saya belum bisa tidur pulas. Kita pun memilih mengobrol, supaya hari cepat pagi. Berbarengan dengan itu, anak-anak komunitas yang juga tengah berkemah di sana sedang diorientasi. Mereka disuruh pergi ke puncak untuk melihat mata hari terbit, lalu kembali lagi.

Ketika mereka pergi, kita akhirnya keluar tenda!


Akhirnya bisa menikmati sunrise!

Sambil membawa matras, botol minum, dan camilan, kita keluar tenda untuk menghirup banyak-banyak udara luar setelah semalaman terkurung di dalam tenda mini. Beberapa kakak-kakak yang jadi panitia acara komunitas itu pun mengajak kita bergabung dan mengobrol.

Kita memilih tidak naik ke puncak karena takut jalur licin setelah hujan. Lagipula pemandangan yang diidamkan di puncak sama saja dengan yang kami lihat di Saung Ceria. Cuaca sedikit berawan juga pasti tidak membuat pemandangan di atas lebih bagus. Tapi...

Tarraaaa! Seenggaknya kita bisa dapet foto-foto lumayan kece.




Alhamdulillah Sabtu pagi itu cuaca cerah dan panas. Setelah beres-beres tenda, kita turun sekitar jam 8. Sayang, jalur yang kemarin kita lalui lebih parah licinnya daripada awal naik. Saya dan adik saya pun harus merayap-rayap lebay, karena kaki-kaki kami yang terlalu letoy dan alas kaki yang sudah hampir jebol *serius*.

Foto sebelum merayap-rayap lebay
Sesekali saya juga melepas sendal, mengikut saran pendaki perempuan lain yang turun. Kaki saya hasilnya jadi seperti tukang semen begini.


Kurang dari 20 menit, kita kembali sampai di posko. Di sana kita bergantian memakai kamar mandi gratis dan menanti angkot yang akan membawa saya dan beberapa pendaki lain kembali ke stasiun untuk menjemput kereta ke Jakarta paling awal.

:. Kesimpulan

1. Total biaya transportasi ke Gunung Lembu dari Jakarta per orang: 
- Tiket KA Walahar PP : Rp12.000
- Sewa angkot Stasiun Purwakarta - Desa Panyindangan : (berangkat) Rp60.000 + (pulang) Rp30.000
- Simaksi : Rp15.000
2. Better pakai sepatu daripada sendal gunung saat mendaki
3. Lebih baik jangan mendaki saat musim hujan karena tipe tanah di jalur pendakian yang lengket dan licin saat basah
4. Jangan pas-pasan bawa uang tunai, karena ATM jarang ditemui

Comments